Guruku Bukan Hanya Satu, Melainkan Lebih Dari Seribu, Hari-hariku Yang Telah Berlalu, Adalah Termasuk Guruku
Sabtu, 03 April 2010
Rabu, 31 Maret 2010
Ma'afkanlah
Memang, bukan berarti segala-galanya
Dan bukan pula satu-satunya
Melainkan banyak sekali gadis cantik jelita
Baik di desa ... maupun di kota ...
Namun, yang ada di dalam hati hamba
Hanyalah dirimu seorang, tiada duanya
Wahai Gadis Ayu ...!
Masih adakah tempat di hatimu untuk aku ...?
Masih adakah benih-benih cintamu untuk diriku ...?
Walau hanya satu per seribu ...?
Kalau memang tidak ada cinta ...
Biarlah ... tak mengapa ...
Yang penting ... maafkanlah diriku ...
Karena Aku tak mampu melupakan dirimu.
Dan bukan pula satu-satunya
Melainkan banyak sekali gadis cantik jelita
Baik di desa ... maupun di kota ...
Namun, yang ada di dalam hati hamba
Hanyalah dirimu seorang, tiada duanya
Wahai Gadis Ayu ...!
Masih adakah tempat di hatimu untuk aku ...?
Masih adakah benih-benih cintamu untuk diriku ...?
Walau hanya satu per seribu ...?
Kalau memang tidak ada cinta ...
Biarlah ... tak mengapa ...
Yang penting ... maafkanlah diriku ...
Karena Aku tak mampu melupakan dirimu.
Selasa, 30 Maret 2010
Sebagai Ujian
Tidak ada suruhan melainkan sebagai ujian
Tidak ada larangan melainkan sebagai ujian
Berarti, suruhan dan larangan...
hakekatnya adalah hanya sebagai ujian
Demikianlah. Sehingga ...
Berbahagialah bagi orang yang melaksanakan suruhan,
semata-mata karena mengharap ridlo Tuhan
Dan berbahagialah bagi mereka yang menjauhi larangan,
semata-mata karena mencari ridlo Tuhan
Oleh karena itu, katakanlah :
“Sesungguhnya ... sholatku ...ibadahku ...
hidupku ..., dan matiku ...
Hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”
Tersenyumlah
Tidak ada kebahagiaan tanpa penderitaan
Tidak ada penderitaan tanpa kebahagiaan
Derita dan bahagia datang silih berganti
Bagaikan pergantian siang dan malam
Oleh karena itu .....
Tersenyumlah ...
Tetaplah tersenyum dan tersenyum ....
Baik pada saat bahagia maupun menderita ...
Supaya semangat hidup selalu menggelora ...
Demi meraih cita-cita suci lagi mulia ...
Dunia akherat hidup bahagia ...
Atas ridlo Tuhan Yang Maha Esa
Tidak ada penderitaan tanpa kebahagiaan
Derita dan bahagia datang silih berganti
Bagaikan pergantian siang dan malam
Oleh karena itu .....
Tersenyumlah ...
Tetaplah tersenyum dan tersenyum ....
Baik pada saat bahagia maupun menderita ...
Supaya semangat hidup selalu menggelora ...
Demi meraih cita-cita suci lagi mulia ...
Dunia akherat hidup bahagia ...
Atas ridlo Tuhan Yang Maha Esa
Senin, 29 Maret 2010
Menuju Islamisasi Paradigma Sains Posmodern 2
Oleh karena itu, sebagian ilmuwan Muslim kontemporer yang berpikir Newtonian enggan menerima filsafat Islam tradisional yang tak lain dari adaptasi logika dan metafisika substansialistik Arestoteles yang lebih menekankan substansi daripada proses, atribut daripada relasi. Adanya pengingkaran filsafat Islam tradiional oleh para ilmuwan Muslim kontemporer tentunya bukan berarti mereka menjadi kafir dan ateis. Soalnya, beriman pada eksistensi Tuhan dan kitab suci-Nya bukanlah sesuatu yang harus dibuktikan secara logis dengan sebuah teori, melainkan sebuah postulat etis yang harus dibuktikan melalui praktik sehari-hari. Rasanya kita harus menghargai religiusitas mereka yang mirip-mirip pandangan Protestantisme di kalangan ummat Nasrani ini.
Revisi Fisika Modern terhadap Paradigma Newtonian
Namun, saya kira pandangan Newtonian klasik itu di awal abad ke-20 yang lalu mengalami sejumlah revisi radikal. Pertama oleh teori relativitas Enstein (khusus dan umum), lalu oleh teori kuantum. Teori relativitas khusus membongkar absolutisme ruang dan waktu Newtonian, seperti halnya teori Newton membongkar absolutisme diam dan gerak Arestotelian. Dengan teori relativitas khusus, kita tidak lagi melihat ruang sebagai wadah kosong yang berisi benda-benda, tetapi sebagai relasi antarbenda. Sedangkan teori relativitas umum menjadikan gaya gravitasi antarbenda sebagai manifestasi lengkungan pada ruang. Dengan demikian, ruang datar Euklideian tak berhingga dan terbuka yang dianggap mutlak oleh Newton telah digantikan ruang lengkung Riemannian yang berhingga dan tertutup.
Begitu pula teori relativitas telah menunjukkan bahwa materi tak lain dari sebuah bentuk energi, sedangkan energi itu tak lain dari kuantitas tetap dalam sebuah proses fisika. Energi gerak sebuah proses berasal dari energi yang tersimpan dalam benda-benda sebagai energi potensial. Energi potensial gravitasi adalah satu di antara banyak bentuk simpanan energi fundamental. Bentuk energi potensial lain adalah energi ikatan elektromagnetik dalam atom dan molekul. Bentuk lainnya adalah energi ikatan nuklir yang tersimpan dalam inti atom dan bagian-bagiannya berupa partikel proton dan netron serta medan meson pengikat mereka. Bentuk lainnya lagi tersimpan dalam energi nuklir lemah dalam netron sehingga partikel ini berpotensi meluruh menjadi proton dan elektron sehingga terjadi transmutasi inti.
Dalam persepektif baru ini, setiap proses fisika tak lain dari redistribusi bentuk energi. Ada dua bentuk transformasi energi fundamental. Yang pertama yang kita kenal sebagi gerak materi dan yang kedua adalah apa yang kita kenal sebagai penjalaran gelombang. Dalam gerak materi, energinya terpusat di sekitar suatu titik, sedangkan pada gelombang, energi tersebar di seluruh ruang. Dalam hal pertama, sistem fisik yang mengalaminya disebut sebuah partikel materi. Dalam hal kedua, sistem fisik yang mengalaminya disebut medan energi, seperti medan gravitasi dan medan listrik magnet. Gambaran untuk yang pertama adalah butir-butir pasir, sedangkan gambaran untuk yang kedua adalah lautan air.
Dalam pandangan klasik Newtonian, sistem fisik fundamental hanya bisa memiliki salah satu bentuk, yaitu partikel materi yang terpusat pada satu titik atau berbentuk gelombang medan energi yang memengaruhi seluruh ruang. Sebenarnya, Newton sendiri menganggap cahaya sebagai butiran-butiran yang disebutnya korpuskel. Dalam hal ini, dia menantang Huyghens yang berpandangan bahwa cahaya itu adalah gelombang bagaikan bunyi. Nyatanya kemudian fakta-fakta eksperimen tentang interferensi dan difraksi membuktikan bahwa Huyghenslah yang benar.
Namun, pandangan materialistik yang dominan waktu itu menuntut adanya medium materi untuk semua gelombang: karena itulah dihipotesikan adanya eter materi sangat halus yang memenuhi seluruh ruang. Hipotesis ini sesuai juga dengan pandangan Newton yang menganggap bahwa eter yang membawa gaya gravitasi antara benda-benda. Soalnya, dalam pandangan umum pada waktu itu tak mungkin diterima pendapat bahwa ada suatu benda memengaruhi benda lain tanpa adanya kontak. Ini adalah sisa-sisa fisika Arestoteles yang menafikan adanya vakum alias kekosongan.
Ketika Maxwell mengajukan teori bahwa cahaya itu tak lain dari gelombang elektromagnetik yang kemudian dibuktikan secara eksperimen oleh Hertz, teori eter merupakan penjelasan umum bagi semua gelombang elektromagnetik. Dengan demikian, sampai akhir hidupnya, paradigma Newtonian masih mewarisi konsep plenum, ketiadaan vakum, dalam ruang. Bedanya: fisika Newtonian memostulatkan adanya ruang yang tak berhingga atau tak terbatas, sedangkan ruang dalam fisika Arestoteles berhingga atau terbatas. Bagaimanapun, kedua ruang itu sama-sama dipenuhi oleh eter.
Namun, percobaan Michelson Morley, yang mengukur kecepatan cahaya, kemudian membuktikan kecepatan cahaya konstan sekaligus membuktikan bahwa cahaya sebenarnya tak ada. Padahal, kaum spiritualis sebelumnya memostulatkan eter sebagai substansi ruh atau jiwa seluruh makhluk hidup. Bahkan sebagian lagi mengatakan bahwa eter adalah ruh atau jiwa semesta alias Tuhan yang memenuhi seluruh ruang alam semesta. Jadi, pandangan monoteistik yang menjadi pasangan logis bagi fisika Arestoteles, telah digantikan oleh pandangan panteistik ala Spinoza bagi yang ingin menafsirkan fisika Newton secara teologis. Pandangan ini disindir sebagai pandangan "Ghost in the Machine". Tuhan ibarat hantu dalam mesin semesta dan Enstein telah mengusrnya dari mesin itu.
Sementara itu, eksperimen-eksperimen lain di paruh pertama abad ke-20, menunjukkan bahwa cahaya ternyata mempuyai karakteristik partikel, sedangkan elektron dan partikel-partikel elementer lainnya mempunyai karakteristik gelombang. Padahal, dalam paradigma Newtonian kedua karakteristik itu bertentangan satu sama lainnya. Dalam hal ini, sekali lagi tampak paradigma Newtonian masih mewarisi logika Arestoteles yang secara empiris dibuktikan tidak berlaku umum. Oleh karena itu, diperlukan sebuah teor lain, yaitu teori kuantum yang ditemukan secara independen oleh Schrodinger, Heisenberg, dan Dirac. Yang mengejutkan, kali ini asumsi determinisme yang merupakan paradigma Newtonis harus dibuang. (Bersambung ke : Menuju Islamisasi Paradigma Sains Posmodern 3 )
Revisi Fisika Modern terhadap Paradigma Newtonian
Namun, saya kira pandangan Newtonian klasik itu di awal abad ke-20 yang lalu mengalami sejumlah revisi radikal. Pertama oleh teori relativitas Enstein (khusus dan umum), lalu oleh teori kuantum. Teori relativitas khusus membongkar absolutisme ruang dan waktu Newtonian, seperti halnya teori Newton membongkar absolutisme diam dan gerak Arestotelian. Dengan teori relativitas khusus, kita tidak lagi melihat ruang sebagai wadah kosong yang berisi benda-benda, tetapi sebagai relasi antarbenda. Sedangkan teori relativitas umum menjadikan gaya gravitasi antarbenda sebagai manifestasi lengkungan pada ruang. Dengan demikian, ruang datar Euklideian tak berhingga dan terbuka yang dianggap mutlak oleh Newton telah digantikan ruang lengkung Riemannian yang berhingga dan tertutup.
Begitu pula teori relativitas telah menunjukkan bahwa materi tak lain dari sebuah bentuk energi, sedangkan energi itu tak lain dari kuantitas tetap dalam sebuah proses fisika. Energi gerak sebuah proses berasal dari energi yang tersimpan dalam benda-benda sebagai energi potensial. Energi potensial gravitasi adalah satu di antara banyak bentuk simpanan energi fundamental. Bentuk energi potensial lain adalah energi ikatan elektromagnetik dalam atom dan molekul. Bentuk lainnya adalah energi ikatan nuklir yang tersimpan dalam inti atom dan bagian-bagiannya berupa partikel proton dan netron serta medan meson pengikat mereka. Bentuk lainnya lagi tersimpan dalam energi nuklir lemah dalam netron sehingga partikel ini berpotensi meluruh menjadi proton dan elektron sehingga terjadi transmutasi inti.
Dalam persepektif baru ini, setiap proses fisika tak lain dari redistribusi bentuk energi. Ada dua bentuk transformasi energi fundamental. Yang pertama yang kita kenal sebagi gerak materi dan yang kedua adalah apa yang kita kenal sebagai penjalaran gelombang. Dalam gerak materi, energinya terpusat di sekitar suatu titik, sedangkan pada gelombang, energi tersebar di seluruh ruang. Dalam hal pertama, sistem fisik yang mengalaminya disebut sebuah partikel materi. Dalam hal kedua, sistem fisik yang mengalaminya disebut medan energi, seperti medan gravitasi dan medan listrik magnet. Gambaran untuk yang pertama adalah butir-butir pasir, sedangkan gambaran untuk yang kedua adalah lautan air.
Dalam pandangan klasik Newtonian, sistem fisik fundamental hanya bisa memiliki salah satu bentuk, yaitu partikel materi yang terpusat pada satu titik atau berbentuk gelombang medan energi yang memengaruhi seluruh ruang. Sebenarnya, Newton sendiri menganggap cahaya sebagai butiran-butiran yang disebutnya korpuskel. Dalam hal ini, dia menantang Huyghens yang berpandangan bahwa cahaya itu adalah gelombang bagaikan bunyi. Nyatanya kemudian fakta-fakta eksperimen tentang interferensi dan difraksi membuktikan bahwa Huyghenslah yang benar.
Namun, pandangan materialistik yang dominan waktu itu menuntut adanya medium materi untuk semua gelombang: karena itulah dihipotesikan adanya eter materi sangat halus yang memenuhi seluruh ruang. Hipotesis ini sesuai juga dengan pandangan Newton yang menganggap bahwa eter yang membawa gaya gravitasi antara benda-benda. Soalnya, dalam pandangan umum pada waktu itu tak mungkin diterima pendapat bahwa ada suatu benda memengaruhi benda lain tanpa adanya kontak. Ini adalah sisa-sisa fisika Arestoteles yang menafikan adanya vakum alias kekosongan.
Ketika Maxwell mengajukan teori bahwa cahaya itu tak lain dari gelombang elektromagnetik yang kemudian dibuktikan secara eksperimen oleh Hertz, teori eter merupakan penjelasan umum bagi semua gelombang elektromagnetik. Dengan demikian, sampai akhir hidupnya, paradigma Newtonian masih mewarisi konsep plenum, ketiadaan vakum, dalam ruang. Bedanya: fisika Newtonian memostulatkan adanya ruang yang tak berhingga atau tak terbatas, sedangkan ruang dalam fisika Arestoteles berhingga atau terbatas. Bagaimanapun, kedua ruang itu sama-sama dipenuhi oleh eter.
Namun, percobaan Michelson Morley, yang mengukur kecepatan cahaya, kemudian membuktikan kecepatan cahaya konstan sekaligus membuktikan bahwa cahaya sebenarnya tak ada. Padahal, kaum spiritualis sebelumnya memostulatkan eter sebagai substansi ruh atau jiwa seluruh makhluk hidup. Bahkan sebagian lagi mengatakan bahwa eter adalah ruh atau jiwa semesta alias Tuhan yang memenuhi seluruh ruang alam semesta. Jadi, pandangan monoteistik yang menjadi pasangan logis bagi fisika Arestoteles, telah digantikan oleh pandangan panteistik ala Spinoza bagi yang ingin menafsirkan fisika Newton secara teologis. Pandangan ini disindir sebagai pandangan "Ghost in the Machine". Tuhan ibarat hantu dalam mesin semesta dan Enstein telah mengusrnya dari mesin itu.
Sementara itu, eksperimen-eksperimen lain di paruh pertama abad ke-20, menunjukkan bahwa cahaya ternyata mempuyai karakteristik partikel, sedangkan elektron dan partikel-partikel elementer lainnya mempunyai karakteristik gelombang. Padahal, dalam paradigma Newtonian kedua karakteristik itu bertentangan satu sama lainnya. Dalam hal ini, sekali lagi tampak paradigma Newtonian masih mewarisi logika Arestoteles yang secara empiris dibuktikan tidak berlaku umum. Oleh karena itu, diperlukan sebuah teor lain, yaitu teori kuantum yang ditemukan secara independen oleh Schrodinger, Heisenberg, dan Dirac. Yang mengejutkan, kali ini asumsi determinisme yang merupakan paradigma Newtonis harus dibuang. (Bersambung ke : Menuju Islamisasi Paradigma Sains Posmodern 3 )
Sabtu, 27 Maret 2010
Menuju Islamisasi Paradigma Sains Posmodern 1
Sedikitnya ada dua alasan pokok yang menyebabkan filsafat Aristotelian dan derivasinya - termasuk filsafat islam tradisional - tidak bisa diterima oleh para ilmuan modern setelah Newton. Yang pertama, fisika Aristotelian yang menganggap benda-benda pada dasarnya diam karena itu memerlukan gaya sebagai penggerak dari luar yang mendorong dan menarik. Yang kedua, konsep metafisika Tuhan sebagai Prima Causa alias Penyebab Pertama yang merupakan konsekuensi logis dari konsep fisikanya.
Asumsi fisika Aristotelian tentang gerak adalah berdasarkan pengalaman langsung sehari-hari. Namun, Galileo - yang diikuti Newton - membalik visi dasar yang menyesatkan itu. Menurut dia, benda itu pada dasarnya bergerak lurus dengan kecepatan tetap. Diam dan gerak adalah hal yang relatif. Gaya bukanlah penyebab gerak, melainkan penyebab perubahan-kecepatan, berupa percepatan, perlambatan, atau pembelokan. Gaya tak perlu dicari di luar alam semesta karena bersumber pada eksistensi benda-benda lain. Setiap benda, bergerak atau diam, memengaruhi atau saling memengaruhi gerak benda lain dalam bentuk gaya-gaya mekanik. Inilah pandangan mekanistik Newtonian.
Metafisika Aristoteles adalah perluasan logis dari fisikanya. Dalam pandangan fisika Aristotelian, karena tak mungkin ada gerakan tanpa digerakkan melalui sentuhan, maka dikonsepsikan adanya entelechy untuk makhluk hidup, nous untuk bintang-bintang dan Prima Causa untuk alam semesta pada keseluruhan. Semua itu bekerja pada eter yang pada gilirannya bekerja pada benda-benda membentuk rantai sebab penyebab gerak yang berujung pada sebuah Penyebab Pertama yang tidak bergerak. Oleh filosof Masysya'iyyah di kalangan Islam, seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina, Penggerak Pertama itu pun diidentifikasikan dengan Tuhan yang disebut dalam kitab suci. Inilah yang dikenal sebagai bukti kosmologis tentang eksistensi Tuhan.
Ketika gerak dan diam diketahui sebagai suatu yang relatif dan gaya disadari sebagai bukan penyebab gerak, melainkan hanya pengubah gerakan, maka tak diperlukan mata rantai yang berujung pada Penyebab Pertama. Jadi, Tuhan tak diperlukan lagi untuk menjelaskan semua gerak benda-benda di bumi dan di langit, seperti matahari, bulan, planet, dan bintang-bintang. Semua gerak benda tak memerlukan penggerak nonmaterial, yang disebut akal atau malaikat, untuk mengarahkan gerakannya. Begitulah, tak diperlukan lagi sebuah Prima Causa yang menggerakkan akal-akal itu. Dengan demikian, konsep-konsep imaterial tak perlu dilibatkan untuk menjelaskan gerak dan gejala alam yang material. Dengan perkataan lain, mekanika tidak mendukung pembuktian adanya Tuhan dengan argumen kosmologis.
Walaupun demikian, Isaac Newton sendiri adalah seorang relegius yang percaya akan adanya kekuasaan Tuhan, bahkan dalam edisi pertama buku Principia Mathematica Philosophiae Naturalis, ia menuliskan bahwa ruang fisik tiga dimensi adalah mutlak yang tak berhingga itu sebagai sensorium Tuhan. Namun, belakangan Pierre de Laplace menulis bukunya, Machaniques Celeste, tantang gerak benda-benda angkasa tanpa menyebutkan satu pun kata Tuhan atau sinonimnya sehingga mengherankan sang Emperor Napoleon Bonaparte. Napoleon bertanya mengapakah Tuan Laplace tidak menuliskan nama Yang Mahakuasa itu dalam bukunya. Sang fisikawan itu menjawab bahwa dia tidak memerlukan hipotesis seperti itu. Tampaknya jawaban Laplace itu kemudian menjadi jawaban standar bagi setiap kritik agamawan terhadap sains yang dituduh ateistik.
Mungkin saja fisika tidak membutuhkan dan tidak bisa membuktikan adanya Tuhan secara ilmiah. Namun, itu bukan berarti eksistensi Tuhan tidak bisa dibuktikan secara lain, secara filosofis misalnya. Bukti ontologis tentang adanya Tuhan adalah bukti populer yang juga dikenal dalam tradisi filsafat Islam. Begitu juga bukti teleologis. Bukti teleologis, bermula dengan menganalogikan alam dengan barang buatan manusia, seperti mesin. Karena dalam pandangan Newtonian alam adalah sebuah mesin raksasa, argumen teleologis mandapat dukungan, walaupun hanya merupakan analogi.
Bukti ontologis itu mulai dengan mengidentikkan konsep Tuhan dengan konsep Ada yang Niscaya (Wajib Al-Wujud). Ada yang Niscaya adalah sesuatu yang tidak mungkin dipikirkan tidak adanya. Cobalah pikirkan bahwa Ada itu tidak ada, pasti yang kita peroleh adalah kontradiksi ( x = bukan x ). Oleh karena itu, kebalikannyalah yang benar. Jadi, Ada Mutlak alias Wajib Al-Wujud itu ada. Namun, hal ini hanya membuktikan sebuah tautologi Ada itu ada ( A = A ) yang semua orang juga tahu. Kesalahan terbesar bukti ontologis adalah membuat pengubahan jenis kata: dari kata keadaan menjadi kata sifat dan akhirnya menjadi kata benda abstrak yang dimutlakkan, yaitu Ada alias Wujud.
Kata wujud ini dalam bahasa Arab adalah satu kata yang digunakan untuk menerjemahkan kata ontos dalam bahasa Yunani. Kata ini adalah kata yang dibuatkan kata padanannya dalam bahasa Arab ketika menerjemahkan literatur filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab di abad ke-2 Hijriyah, lalu dijadikan kata sifat bagi Allah, sebuah kata sifat yang tak dikenal dalam Al-Qur'an. Sebagai akibatnya, timbullah perdebatan ilmu kalam tentang sama tidaknya antara dzat dan sifat, perdebatan mistis tasawuf antara wahdah al-wujud dan wahdah al-syuhud, perdebatan filosofis antara ashalah al-wujud dan ashalah mahiyyah. Bagi banyak ilmuwan modern Muslim kontemporer, perdebatan itu adalah perdebatan tentang kata-kata yang sama sekali tidak relevan, baik bagi sains maupun agama. (Bersambung ke: Menuju Islamisasi Paradigma Sains Posmodern 2 )
Metafisika Aristoteles adalah perluasan logis dari fisikanya. Dalam pandangan fisika Aristotelian, karena tak mungkin ada gerakan tanpa digerakkan melalui sentuhan, maka dikonsepsikan adanya entelechy untuk makhluk hidup, nous untuk bintang-bintang dan Prima Causa untuk alam semesta pada keseluruhan. Semua itu bekerja pada eter yang pada gilirannya bekerja pada benda-benda membentuk rantai sebab penyebab gerak yang berujung pada sebuah Penyebab Pertama yang tidak bergerak. Oleh filosof Masysya'iyyah di kalangan Islam, seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina, Penggerak Pertama itu pun diidentifikasikan dengan Tuhan yang disebut dalam kitab suci. Inilah yang dikenal sebagai bukti kosmologis tentang eksistensi Tuhan.
Ketika gerak dan diam diketahui sebagai suatu yang relatif dan gaya disadari sebagai bukan penyebab gerak, melainkan hanya pengubah gerakan, maka tak diperlukan mata rantai yang berujung pada Penyebab Pertama. Jadi, Tuhan tak diperlukan lagi untuk menjelaskan semua gerak benda-benda di bumi dan di langit, seperti matahari, bulan, planet, dan bintang-bintang. Semua gerak benda tak memerlukan penggerak nonmaterial, yang disebut akal atau malaikat, untuk mengarahkan gerakannya. Begitulah, tak diperlukan lagi sebuah Prima Causa yang menggerakkan akal-akal itu. Dengan demikian, konsep-konsep imaterial tak perlu dilibatkan untuk menjelaskan gerak dan gejala alam yang material. Dengan perkataan lain, mekanika tidak mendukung pembuktian adanya Tuhan dengan argumen kosmologis.
Walaupun demikian, Isaac Newton sendiri adalah seorang relegius yang percaya akan adanya kekuasaan Tuhan, bahkan dalam edisi pertama buku Principia Mathematica Philosophiae Naturalis, ia menuliskan bahwa ruang fisik tiga dimensi adalah mutlak yang tak berhingga itu sebagai sensorium Tuhan. Namun, belakangan Pierre de Laplace menulis bukunya, Machaniques Celeste, tantang gerak benda-benda angkasa tanpa menyebutkan satu pun kata Tuhan atau sinonimnya sehingga mengherankan sang Emperor Napoleon Bonaparte. Napoleon bertanya mengapakah Tuan Laplace tidak menuliskan nama Yang Mahakuasa itu dalam bukunya. Sang fisikawan itu menjawab bahwa dia tidak memerlukan hipotesis seperti itu. Tampaknya jawaban Laplace itu kemudian menjadi jawaban standar bagi setiap kritik agamawan terhadap sains yang dituduh ateistik.
Mungkin saja fisika tidak membutuhkan dan tidak bisa membuktikan adanya Tuhan secara ilmiah. Namun, itu bukan berarti eksistensi Tuhan tidak bisa dibuktikan secara lain, secara filosofis misalnya. Bukti ontologis tentang adanya Tuhan adalah bukti populer yang juga dikenal dalam tradisi filsafat Islam. Begitu juga bukti teleologis. Bukti teleologis, bermula dengan menganalogikan alam dengan barang buatan manusia, seperti mesin. Karena dalam pandangan Newtonian alam adalah sebuah mesin raksasa, argumen teleologis mandapat dukungan, walaupun hanya merupakan analogi.
Bukti ontologis itu mulai dengan mengidentikkan konsep Tuhan dengan konsep Ada yang Niscaya (Wajib Al-Wujud). Ada yang Niscaya adalah sesuatu yang tidak mungkin dipikirkan tidak adanya. Cobalah pikirkan bahwa Ada itu tidak ada, pasti yang kita peroleh adalah kontradiksi ( x = bukan x ). Oleh karena itu, kebalikannyalah yang benar. Jadi, Ada Mutlak alias Wajib Al-Wujud itu ada. Namun, hal ini hanya membuktikan sebuah tautologi Ada itu ada ( A = A ) yang semua orang juga tahu. Kesalahan terbesar bukti ontologis adalah membuat pengubahan jenis kata: dari kata keadaan menjadi kata sifat dan akhirnya menjadi kata benda abstrak yang dimutlakkan, yaitu Ada alias Wujud.
Kata wujud ini dalam bahasa Arab adalah satu kata yang digunakan untuk menerjemahkan kata ontos dalam bahasa Yunani. Kata ini adalah kata yang dibuatkan kata padanannya dalam bahasa Arab ketika menerjemahkan literatur filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab di abad ke-2 Hijriyah, lalu dijadikan kata sifat bagi Allah, sebuah kata sifat yang tak dikenal dalam Al-Qur'an. Sebagai akibatnya, timbullah perdebatan ilmu kalam tentang sama tidaknya antara dzat dan sifat, perdebatan mistis tasawuf antara wahdah al-wujud dan wahdah al-syuhud, perdebatan filosofis antara ashalah al-wujud dan ashalah mahiyyah. Bagi banyak ilmuwan modern Muslim kontemporer, perdebatan itu adalah perdebatan tentang kata-kata yang sama sekali tidak relevan, baik bagi sains maupun agama. (Bersambung ke: Menuju Islamisasi Paradigma Sains Posmodern 2 )
Rabu, 17 Maret 2010
Bilakah Cinta Akan Bersemi
Bila musim gugur tiba ….
Bila musim panas menggantikan musim sebelumnya
Bila musim dingin datang silih berganti
Bila musim semi membawa berita gembira bagi petani
Maka ….
Semua musim-musim itu tiada guna bagi diriku ..
Tiada arti bagi hidupku ….
Karena sesungguhnya ….
Yang ku tunggu adalah musim cinta bersemi ...
Cinta suci dan cinta sejati …..
Tapi, kapankah musim itu akan tiba ….?
Bilakah musim cinta bersemi itu akan datang …?
Oo …. yang tahu jawabannya hanyalah dirimu …
Hanya dirimu seorang …..
Dan ….
Diriku akan selalu menunggu …
Tetap menanti sepanjang hidupku ….
Dengan bersabar dan tawakkal kepada-Nya
Insya Allah.
Bila musim panas menggantikan musim sebelumnya
Bila musim dingin datang silih berganti
Bila musim semi membawa berita gembira bagi petani
Maka ….
Semua musim-musim itu tiada guna bagi diriku ..
Tiada arti bagi hidupku ….
Karena sesungguhnya ….
Yang ku tunggu adalah musim cinta bersemi ...
Cinta suci dan cinta sejati …..
Tapi, kapankah musim itu akan tiba ….?
Bilakah musim cinta bersemi itu akan datang …?
Oo …. yang tahu jawabannya hanyalah dirimu …
Hanya dirimu seorang …..
Dan ….
Diriku akan selalu menunggu …
Tetap menanti sepanjang hidupku ….
Dengan bersabar dan tawakkal kepada-Nya
Insya Allah.
Selasa, 16 Maret 2010
Biarlah Dua Hati Tetap Menyatu
Bila ada rembulan di malam hari …
Bila ada mawar di musim semi
Bila senyumku tak mampu kau lukiskan
Bila wajahku tak mampu kau pandang
Bila tatapku hanya bayang-bayang
Bila wajahku tak mampu kau pandang
Bila tatapku hanya bayang-bayang
Bila syairku jauh di sini
Biarlah dua hati tetap menyatu
Biarlah dua hati saling bercumbu
Biarlah dua hati saling merayu
Biarlah dua hati saling merindu
Apalah arti kita saling bertemu
Bila dua hati tak pernah menyatu
Bila dua hati tak pernah saling bercumbu
Bila dua hati tak pernah saling merayu
Bila dua hati tak pernah saling merindu
Kamis, 18 Februari 2010
AKU TAK MAU PERGI
Sekian lama aku menjalin hubungan asmara
dengan seorang gadis cantik jelita
Sekian lama pula hidupku terasa bahagia
bagaikan diriku berada di alam syurga
Hari demi hari ku lewati dengan penuh ceria
bersama sang kekasih yang sangat kucinta
Tiada kata yang terucap dari kami berdua
selain kata-kata cinta dan janji saling setia
Namun ...
Ketika kebahagiaan yang kurasakan itu telah sampai pada puncaknya
dan diriku mengira bahwa apa yang kurasakan itu tidak pernah akan sirna
Tiba-tiba terdengarlah olehku suara yang menggetarkan jiwa ...
dadaku berdebar-debar ..., darah jantungku pun terhenti ...
seakan-akan tak mau mengalir lagi
Karena, kekasihku yang kucinta berkata kepadaku:
'Pergilah ....!, pergi ...!, pergiiii ....!!!'
Lalu ...
Aku pun pergi ...
Berlari ...
Lari ke sana-ke mari ...
Di bawah sengatan teriknya matahari ...
aku mencari satu jawaban tapi pasti ...
Apakah suara itu aku dengar dari alam mimpi ... ?
Atau ..., mungkinkah kebahagiaan yang kurasakan itu hanya sebuah ilusi ... ?
Oh ... sungguh aku tidak tahu sama sekali
Dan tak seorang pun dari mereka yang kutanya
dapat memberi jawaban secara pasti
Membuat diriku semakin tidak mengerti
Ke mana aku harus pergi ....?,
dan kepada siapa aku harus bertanya lagi ... ?
Wahai kekasihku ... !
Ketahuilah ...
Seandainya, kalau bukan karena gelora cinta yang tersimpan di dalam dada ...
niscaya diriku telah pergi jauh entah ke mana
Sebelum engkau mengucapkan kata-kata
yang menyesakkan dada dan mengguncang jiwa
Wahai gadis manis dambaan hati
Dengarkanlah jeritan hatiku ini
Sungguh mati ..., aku tak mau pergi ...
Sampai akhir hidupku nanti.
dengan seorang gadis cantik jelita
Sekian lama pula hidupku terasa bahagia
bagaikan diriku berada di alam syurga
Hari demi hari ku lewati dengan penuh ceria
bersama sang kekasih yang sangat kucinta
Tiada kata yang terucap dari kami berdua
selain kata-kata cinta dan janji saling setia
Namun ...
Ketika kebahagiaan yang kurasakan itu telah sampai pada puncaknya
dan diriku mengira bahwa apa yang kurasakan itu tidak pernah akan sirna
Tiba-tiba terdengarlah olehku suara yang menggetarkan jiwa ...
dadaku berdebar-debar ..., darah jantungku pun terhenti ...
seakan-akan tak mau mengalir lagi
Karena, kekasihku yang kucinta berkata kepadaku:
'Pergilah ....!, pergi ...!, pergiiii ....!!!'
Lalu ...
Aku pun pergi ...
Berlari ...
Lari ke sana-ke mari ...
Di bawah sengatan teriknya matahari ...
aku mencari satu jawaban tapi pasti ...
Apakah suara itu aku dengar dari alam mimpi ... ?
Atau ..., mungkinkah kebahagiaan yang kurasakan itu hanya sebuah ilusi ... ?
Oh ... sungguh aku tidak tahu sama sekali
Dan tak seorang pun dari mereka yang kutanya
dapat memberi jawaban secara pasti
Membuat diriku semakin tidak mengerti
Ke mana aku harus pergi ....?,
dan kepada siapa aku harus bertanya lagi ... ?
Wahai kekasihku ... !
Ketahuilah ...
Seandainya, kalau bukan karena gelora cinta yang tersimpan di dalam dada ...
niscaya diriku telah pergi jauh entah ke mana
Sebelum engkau mengucapkan kata-kata
yang menyesakkan dada dan mengguncang jiwa
Wahai gadis manis dambaan hati
Dengarkanlah jeritan hatiku ini
Sungguh mati ..., aku tak mau pergi ...
Sampai akhir hidupku nanti.
Senin, 02 November 2009
TENTANG KEMATIAN
Mati itu indah, tapi menakutkan. Indah, bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Pencipta alam. Menakutkan, bagi orang-orang yang tidak beriman kepada hari kemudian. Bagi orang-orang yang beriman, kematian adalah merupakan awwal dari segala kesenangan dan kebahagiaan, sekaligus sebagai akhir dari segala penderitaan dan kesengsaraan yang pernah dialaminya ketika hidup di dunia, dimana selama hidup di dunia itu mereka harus berhadapan dengan berbagai macam cobaan, ujian. dan tantangan. Sedangkan bagi orang-orang yang tidak beriman, kematian adalah merupakan awwal dari segala penderitan dan kesengsaraan, sekaligus sebagai akhir dari segala kesenangan hidup di dunia yang pernah dialami sepanjang hidupnya. Dimana selama hidup di dunia itu ..., mereka bergelimang dalam dosa, durhaka, dusta dan penuh kesombongan. seakan-akan mereka telah menguasai isi dunia yang fana ini. Bagaimana ketika malaikat maut datang menjemput mereka ...??? Ooh....!!! Sungguh...!!! Orang-orang yang beriman akan menyambutnya dengan wajah berseri-seri ... dan sebuah senyuman indah menawan ..., sedangkan orang-orang yang tidak beriman akan menghadapinya dengan penuh ketakutan ..., ngeri sekali. ..., sungguh ngeri sekali ... , sementara raut wajah mereka pun cemberut berwarna kehitam-hitaman karena menanggung sejuta penyesalan. .
Kematian adalah sebuah kepastian, tetapi kebanyakan manusia melupakan. Sehingga apabila kematian datang menjemput mereka, mereka pun merasa terkejut ...
(Bersambung)
Jumat, 30 Oktober 2009
TAKE and GIVE (Bagian 2)
Kemudian, apabila kita pahami sedikit lebih mendalam menganai faktor-faktor yang menjadikan seorang nasabah merasa aman dan nyaman, adalah bukan semata-mata karena hadiah atau keuntungan yang besar yang ia peroleh, melainkan juga karena adanya faktor keparcayaan nasabah itu sendiri terhadap pengelola sebuah bank Sehingga apabila seorang nasabah tidak memiliki kepercayaan terhadap pengelola bank, tempat di mana ia menyimpan uangnya, maka bukannya ketenangan dan ketenteraman yang ia rasakan melainkan kecemasan dan kekhawatiranlah yang selalu menyelimuti hatinya dan mencekam pikirannya, sebab dia selalu khawatir uang miliknya tidak akan kembali. Dengan demikian, percaya adalah merupakan faktor utama untuk memperoleh ketentraman hati dan ketenangan jiwa dan sekaligus merupakan faktor utama untuk dapat melakukan sebuah tindakan (membuka rekening/menabung). Sedangkan tindakan adalah merupakan manifestasi dari sebuah kepercayaan atau keyakinan yang dimiliki seseorang. Oleh karena itu, meskipun setiap hari datang ke kantor bank dan menyerahkan uangnya ke seorang kasir misalnya, maka dia (nasabah) sama sekali tidak akan merasa rugi dan tidak pula merasa dirugikan, malah sebaliknya, yaitu sangat senang dan gembira karena bisa menabung setiap hari dan merasa beruntung karena akan memperoleh keuntungan yaitu berupa bunga yang berlipat ganda.Begitu juga dengan seorang hamba Allah yang beriman dan bertakwa kepada-Nya ketika melakukan kebajikan atau memberikan sebagian harta bendanya kepada orang lain, adalah bukan semata-mata kerena adanya janji-janji-Nya yang akan melipat gandakan pahala setiap amal kebajikan yang dilakukan oleh seorang hamba, melainkan lebih kerena adanya faktor kepercayaan atau keimanan dan keyakinan seorang hamba itu sendiri kepada Tuhannya, Dzat Yang Maha menepati janji, yaitu Allah Rabbul 'Izzati. Sehingga, meskipun setiap saat membagi-bagikan harta kekayaannya kepada orang lain, maka dia (hamba Allah) sama sekali tidak akan pernah merasa susah, resah maupun gelisah, dan tidak pula merasa rugi ataupun dirugikan, malah sebaliknya yaitu dia akan selalu merasa senang dan gembira dengan penuh ketulusan dan keikhlasan dan lapang dada serta merasa sangat beruntung, karena dapat menunaikan perintah-perintah-Nya. Sebaliknya, apabila di dalam hati kita tidak ada rasa keimanan karena mungkin iman kita hanya baru sebatas ucapan atau mungkin juga iman kita masih terlalu tipis, maka bukannya ketenangan jiwa dan ketenteraman hati yang kita rasakan melainkan kegelisahan dan keresahanlah yang akan selalu menyertai diri kita, yang akan menyelimuti hati kita, bahkan sangat mungkin akan timbul berbagai macam keragu-raguan, kekhawatiran dan ketakutan yang sangat mendalam, yaitu misalnya takut miskin dan lain sebagainya. Padahal timbulnya rasa kekhawatiran itu adalah berasal dari musuh kita sendiri, yaitu syaitan, yang selalu menghembuskan bisikan-bisikannya ke dalam dada/hati kita, agar supaya kita berbuat jahat dan munkar. Na'uudzu Billaahi Min Dzaalik. Oleh karena itulah saya mengatakan bahwa "Berterima kasih pada saat menerima pemberian adalah sangat mudah diucapkan dan tidak sulit untuk dilakukan. Sedangkan merasa beruntung pada saat memberi adalah sangat sulit untuk diwujudkan, kecuali oleh orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah Azza Wa Jalla.
Jadi, dengan cara mengambil i'tibar dari seorang nasabah sebuah bank itulah kita akan memperoleh pengetahuan dan pengertian serta pemahaman tentang berbagai macam masalah yang berkaitan dengan ibadah amaliah kita ketika hidup di alam dunia ini. Baik ibadah amaliah dhohiriyah maupun ibadah amaliah batiniyyah, khususnya yang berkenaan dengan masalah perinsip-perinsip kehidupan berumah tangga, yaitu Take and Give. Sehingga, apabila kita merasa rugi pada saat memberi misalnya, maka kita hendaklah menanyakan kepada diri kita sendiri mengenai keyakinan kita, tentang keimanan kita, kwalitas ibadah dan ketakwaan kita kepada Sang Pencipta alam semesta yang nyata-nyata telah mengingatkan kepada diri kita bahwa "Barangsiapa berbuat baik maka kebaikan itu akan kembali kepada dirinya sendiri dan barangsiapa berbuat jahat maka kejahatan itu akan kembali kepada dirinya sendiri pula". Dan sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla tidak pernah dan tidak akan merugikan hamba-hamba-Nya walau sedikit pun, sebagaimana secara matematis telah kami jelaskan pada bagian pertama artikel Take and Give ini. Sungguh apalah artinya sebuah pengakuan atau pernyataan bila tanpa bukti. Ingat ...! Setiap pernyataan menuntut pembuktian. Apalah artinya kita mengaku beriman kepada Allah Azza Wa Jalla, sementara ibadah amaliyah kita, kita kerjakan dengan penuh keragu-raguan. Dan apalah gunanya bila kita percaya kepada pengelola sebuah bank misalnya, tetapi kita sendiri tidak pernah menyimpan uang di sana. Tentulah tidak ada gunanya sama sekali.
Pada bagian pertama artikel Take and Give ini, kami telah mengemukakan bahwa "... sesungguhnya setiap manusia itu, baik laki-laki maupun perempuan memiliki kesempatan dan peluang yang sama untuk menjadi orang kaya sekaligus menjadi orang miskin. Sehingga dalam kehidupan sebuah rumah tangga sangat mungkin terjadi suaminya orang kaya sementara isterinya miskin atau sebalikanya, yaitu suaminya miskin sedangkan isterinya kaya raya. Dalam kondisi semacam inilah kita perlu memahami pengertian saling memberi dan menerima (Take and Give) suapaya pengorbanan kita, baik kita sebagai seorang suami maupun sebagai seorang isteri, tidak sia-sia. Dan terutama sekali adalah supaya hati kita merasa beruntung pada saat memberi", maka, termasuk salah satu masalah yang perlu dan penting untuk kita pahami adalah bagaimanakah caranya supaya kita pandai berterima kasih pada saat memberi. Sekali lagi berterima kasih pada saat memberi, yakni bukan berterima kasih pada saat menerima pemberian. Jadi,disamping merasa beruntung juga berterima kasih. Dengan memahami masalah ini, insya Allah hati kita akan merasa tenteram dan jiwa kita pun akan menjadi tenang.
Mengapa kita (harus) berterima kasih pada saat memberi?
(Bersambung)
Selasa, 27 Oktober 2009
TAKE and GIVE (Bagian 1)
Take and Give, adalah salah satu perinsip dalam kehidupan berumah tangga. Yaitu antara seorang suami dengan seorang isteri. Dimana kalimat "take and give" ini, mengandung makna saling memberi dan menerima, baik yang bersifat/berbentuk materi maupun non materi. Apabila perinsip tersebut dipegang teguh oleh kedua belah pihak, maka Insya Allah, kehidupan sebuah rumah tangga akan berjalan dengan baik dan penuh bahagia. Saling pengertian dan se-ia se-kata dalam setiap langkah untuk mewujudkan rumah tangga yang harmonis, sakinah, mawaddah warahmah. Sebaliknya, jika salah satu pihak ada yang mengabaikan perinsip-perinsip tersebut, maka tidaklah mustahil bila ada pihak lain yang merasa dirugikan, baik secara moral maupun materil. Oleh karena itu, baik suami maupun isteri hendaklah memahami makna "Take and Give" ini dan kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehar-hari.
Secara garis besarnya, ada dua kemungkinan di dalam kehidupan sebuah rumah tangga bila ditinjau dari segi ekonomi, yaitu : Kuffu (berimbang) dan Tidak Kuffu (tidak berimbang). Berimbang (kuffu), yaitu kedua belah pihak memiliki harta kekayaan yang setara atau sederajat, misalnya golongan ekonomi kelas bawah + kelas bawah;; kelas menengah + kelas menengah; dan ekonomi kelas atas + kelas atas. Tidak berimbang (tidak kuffu), yaitu salah satu pihak memiliki harta kekayaan yang lebih tinggi dari yang lainnya, misalnya : kelas menengah + kelas bawah; kelas atas + kelas bawah; kelas atas + kelas menengah.
Oleh karena adanya kemungkinan-kemungkinan semacam itulah, maka pemahaman kita terhadap perinsip kehidupan berumah tangga perlu dipertajam dan diperjeles supaya kita pandai berterima kasih pada saat menerima dan merasa beruntung pada saat memberi. Berterima kasih pada saat menerima pemberian adalah sangat mudah diucapkan dan tidak sulit untuk dilakukan. Sedangkan merasa beruntung pada saat memberi adalah sangat sulit untuk diwujudkan, kecuali oleh orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah Azza Wa Jalla. Oleh karena itu, kita perlu menelaah kembali firman Allah Azza Wa Jalla, dalam surat Al Baqarah ayat 221, bilamana kita hendak menjalin hubungan hidup berumah tangga (nikah) dengan seseorang, yaitu yang artinya : "Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang beriman adalah lebih baik dari pada wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu'min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu'min adalah lebih baik dari pada orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke syurga dan ampunan dengan izin-Nya.Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran". (QS.Al Baqarah: 221).
Pertanyaannya adalah mengapa hanya orang-orang yang beriman dan bertakwa saja yang akan merasa beruntung pada saat memberi? Nah, itulah pertanyaan mendasar yang perlu kita cari jawabannya, supaya hati kita selalu tenteram, tenang dan merasa beruntung pada saat kita memberikan sesuatu kepada orang lain (suami atau isteri). Namun, sebelumnya mari kita lihat terlebih dahulu kemungkinan-kemungkinan yang terjadi berkaitan dengan perkembangan ekonomi kita pada saat kita membangun sebuah rumah tangga. Dalam hal ini ada tiga kemungkinan, yaitu : menurun, tetap, dan meningkat dari sebelumnya. Tiga kemungkinan ini bisa saja terjadi pada salah satu pihak bahkan tidaklah mustahil bila akan dialami oleh keduanya, baik suami maupun isteri. Sehingga kemungkinan-kemungkinannya adalah sebagai berikut: Suami/meningkat + Isteri/meningkat; Suami/meningkat + isteri/tetap; suami/meningkat + isteri/menurun; Suami/tetap + isteri/meningkat; suami/tetap + isteri/tetap; suami/tetap + isteri/menurun; Suami/menurun + isteri/meningkat; suami/menurun + isteri/tetap; suami/menurun + isteri/menurun.
Itulah kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada diri kita, baik kita sebagai seorang suami maupun sebagai seorang isteri. Mengapa demikian? Karena, sesungguhnya setiap manusia itu, baik laki-laki maupun perempuan memiliki kesempatan dan peluang yang sama untuk menjadi orang kaya sekaligus menjadi orang miskin. Sehingga dalam kehidupan sebuah rumah tangga sangat mungkin terjadi suaminya orang kaya sementara isterinya miskin atau sebalikanya, yaitu suaminya miskin sedangkan isterinya kaya raya. Dalam kondisi semacam inilah kita perlu memahami pengertian saling memberi dan menerima (Take and Give) suapaya pengorbanan kita, baik kita sebagai seorang suami maupun sebagai seorang isteri, tidak sia-sia. Dan terutama sekali adalah supaya hati kita merasa beruntung pada saat memberi.
Memang, kedengarannya aneh dan tidak masuk akal, mana mungkin ada, orang memberi merasa beruntung? Betul....!!!. Namun, hendaklah diketahui bahwa apa yang saya katakan tadi, sebenarnya adalah masuk akal, dalam arti bahwa kita akan merasa beruntung bilamana ada sesuatu yang menguntungkan Sekarang bagaimanakah caranya supaya masuk akal, sehingga hati kita merasa beruntung pada saat kita memberikan sesuatu kepada orang lain? Untuk itu marilah kita gambarkan tentang pemahaman atau jawaban akal kita terhadap beberapa pertanyaan misalnya : 10 - 1 = ?, 10-2=?, 10-3=? dan seterusnya. Bilangan angka sepuluh (10) adalah gambaran tentang jumlah harta kekayaan kita sedangkan angka 1, 2, 3, dst. adalah jumlah harta kita yang kita berikan kepada orang lain, misalnya kepada seorang isteri, suami maupun kepada yang lainnya. Nah, supaya mudah dipahami, maka baiklah kita klasifikasikan akal kita menjadi dua macam, yaitu : Akal Pertama dan Akal Kedua. Kemudian, perhatikan jawaban kedua akal ini berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan di atas. Akal Pertama akan menjawab atau mengatakan bahwa : 10 - 1 = 9, sedangkan Akal Kedua mengatakan bahwa : 10 - 1 = 9 + 1 + 700 = 710. Kemudian, Akal Pertama mengatakan bahwa : 10 - 2 = 8, sedangkan Akal Kedua mengatakan bahwa : 10 - 2 = 8 + 2 + 1.400 = 1.410 Selanjutnya, Akal Pertama mengatakan bahwa : 10 - 3 = 7, sedangkan Akal Kedua mengatakan bahwa : 10 - 3 = 7 + 3 + 2.100 = 2.110. Dan misalnya lagi 10 - 9 =Berapa? . Maka, Akal Pertama akan menjawab bahwa 10 - 9 = 1, sedangkan Akal Kedua menjawab bahwa 10 - 9 = 1 + 9 + 6.300 = 6.310.
Dari uraian tersebut terlihat dengan jelas bahwa Akal pertama selalu memberi jawaban negatif (-) atau berkurang, yaitu 10-1=9, 10-2=8, 10-3=7, dan seterusnya, sedangkan Akal kedua selalu memberi jawaban positif (+), yaitu : 10-1=9+1+... = ...., 10-2=8+2+....=.... , 10-3=7+3+....=....., ..., 10-9=1+9+....=....., bahkan dilipat gandakan dengan menambahkan bilangan : 700, 1.400, 2.100, ..., 6.300, sebagaimana terlihat di atas. Di mana bilangan-bilangan tersebut adalah merupakan hasil perkalian (x) dari bilangan 700 dengan bilangan 1, 2, 3, dst. Yaitu : 1 x 700 = 700, 2 x 700 = 1.400, 3 x 700 = 2.100, .... 9 x 700 = 6.300. Sedangkan bilangan 700 ini adalah berasal dari bilangan 7 x 100, sebagaimana yang diisyaratkan dalam firman Allah Azza Wa Jalla, surat Al Baqarah ayat 261, yang artinya : " Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah) adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh (7) bulir; pada tia-tiap bulir seratus (100) biji....." (QS. Al Baqarah : 261). Berarti : 7 x 100 = 700.
Dengan demikian, Akal Kedua menganggap dirinya selalu beruntung, tidak pernah merasa rugi, bahkan merasa senang dan gembira meskipun sebagian harta kekayaannya diberikan kepada orang lain, karena pada hakekatnya adalah tidak berkurang walau sedikit pun, yaitu: 10-1=9+1=10=tetap, atau 10-2=8+2=10=tetap, dan atau 10-9=1+9=10=tetap, bahkan bertambah dengan berlipat ganda sebagaimana telah kita lihat bersama. Hal ini dapat kita umpamakan dengan seorang nasabah sebuah bank. Misalnya, seorang nasabah mempunyai uang sebesar Rp. 10,- (sepuluh rupiah), kemudian disimpan di bank dengan keuntungan sebesar Rp. 700,- per 1 rupiah. Nah, apabila nasabah tadi menyimpan uangnya sebesar 1 atau 2 atau 3 atau 9 rupiah misalnya, maka secara keseluruhan jumlah uang yang dimiliki oleh nasabah tadi adalah : Rp. 10 - 1 = 9 + 1 + 700 = Rp.710,- atau Rp.10 - 2 = 8 + 2 + 1.400 = Rp. 1.410,- atau Rp. 10 - 3 = 7 + 3 + 2.100 = Rp. 2.110,-. atau Rp. 10 - 9 = 1 + 9 + 6.300 = Rp. 6.310,- Sehingga, meskipun di dalam dompet seorang nasabah tadi hanya tersisa uang sebesar Rp. 1,- (satu rupiah) misalnya, namun oleh karena dia memiliki simpanan uang di bank dalam jumlah lebih dari cukup, maka dia tidak akan merasa susah, melainkan akan selalu senang dan gembira, bahkan akan merasa lebih beruntung bila dibandingkan dengan tidak menyimpan uangnya di bank. Atas dasar pemikiran semacam itulah, Akal Kedua mengganggap dirinya selalu beruntung dan merasa gembira pada saat memberi, sebagaimana kegembiraan seorang nasabah pada saat menyetor atau menambah uang tabungannya. Sekarang, mungkinkah kita akan memperoleh imbalan atau keuntungan yang berlipat ganda, misalnya sebesar Rp. 700,- per 1 rupiah? Jawabannya : Mungkin sekali, bahkan lebih dari itu pun bukanlah sesuatu yang mustahil. Contohnya adalah seorang penumpang pesawat terbang yang mengalami musibah atau kecelakaan. Dimana hanya dengan membayar premi asuransi sejumlah puluhan atau ratusan ribu rupiah, dia akan menerima santunan sebesar puluhan bahkan ratusan juta rupiah.
Marilah kita bandingkan jawaban Akal Kedua terhadap pertanyaan-pertanyaan sebagaimana tersebut di atas dengan saldo yang di miliki oleh seorang nasabah bank tadi. Apakah ada perbedaan atau mungkinkah justeru sama persis, tidak kurang dan juga tidak lebih? Baiklah ....! Kita bandingkan: Jawaban Akal Kedua : 10 - 1 = 9 + 1 + 700 = 710, sedangkan saldo Nasabah adalah : 10 - 1 = 9 + 1 + 700 = Rp. 710,- (sama persis). Kemudian, jawaban Akal Kedua : 10 - 2 = 8 + 2 + 1.400 = 1.410, sedangkan saldo Nasabah adalah : 10 - 2 = 8 + 2 + 1.400 = Rp. 1.410,-.(sama persis). Kemudian, jawaban Akal Kedua : 10 - 3 = 7 + 3 + 2.100 = 2.110, sedangkan saldo Nasabah adalah : 10 - 3 = 7 + 3 + 2.100 = Rp. 2.110,- (sama persis). Yang terakhir, jawaban Akal Kedua : 10 - 9 = 1 + 9 + 6.300 = 6.310, sdangkan saldo Nasabah adalah : 10 - 9 = 1 + 9 + 6.300 = Rp. 6.310,- (sama persis). Nah, ternyata sama saja. Dengan demikian tidaklah berlebihan dan tidak pula mengada-ada bila kita simpulkan bahwa jawaban Akal Kedua sebagaimana tersebut di atas adalah termasuk jawaban yang masuk akal. Sementara perbedaannya hanya terletak pada jenis tabungannya, yaitu Akal Kedua berupa tabungan akhirat, sedangkan seorang nasabah berupa tabungan dunia. Tabungan akhirat adalah lebih baik daripada tabungan dunia. Sehingga seorang ulama pernah mengatakan bahwa seandainya kehidupan dunia ini adalah bagaikan emas berlian sedangkan kehidupan akhirat adalah laksana tikar busuk, maka manusia wajib mencari tikar busuknya daripada emas berlian. Nah, bagaimana kalau seandainya di balik, yaitu misalnya kehidupan dunia adalah bagaikan tikar busuk sedangkan kehidupan akhirat adalah laksana emas berlian? Tentulah akan lebih wajib lagi bagi segenap ummat manusia yang berakal sehat. Karena, hidup di dunia adalah hanya sementara sedangkan hidup di akhirat adalah kekal abadi, selama-lamanya.
(Bersambung ke : TAKE and GIVE Bagian 2)
Jumat, 16 Oktober 2009
DIRIKU SELALU BERSAMAMU
Bila kau bersedih, hatiku pun sedih
Bila kau bahagia, hatiku pun bahagia
Bila kau menangis, diriku pun menangis
Bila kau tersenyum, aku pun tersenyum
Kesedihanmu adalah kesedihanku
Kebahagianmu adalah kebahagiaanku
Tangisanmu adalah tangisanku
Senyumanmu adalah senyumanku
Oleh karena itu ....
Janganlah kau mengatakan " ... tiada teman ..."
Dan jangan pula kau merasa kesepian
Ketahuilah ...wahai Gadis Ayu .... !!!!
Bahwa ....
Sesungguhnya diriku selalu bersamamu
Sayang dan setia sepanjang waktu.
Bila kau bahagia, hatiku pun bahagia
Bila kau menangis, diriku pun menangis
Bila kau tersenyum, aku pun tersenyum
Kesedihanmu adalah kesedihanku
Kebahagianmu adalah kebahagiaanku
Tangisanmu adalah tangisanku
Senyumanmu adalah senyumanku
Oleh karena itu ....
Janganlah kau mengatakan " ... tiada teman ..."
Dan jangan pula kau merasa kesepian
Ketahuilah ...wahai Gadis Ayu .... !!!!
Bahwa ....
Sesungguhnya diriku selalu bersamamu
Sayang dan setia sepanjang waktu.
Kamis, 15 Oktober 2009
AKU JATUH CINTA
Tiada salah, bagi orang yang dicintai
Tiada dosa, bagi orang yang disayangi
Salah dan dosa bukan karena dicintai
Dan juga bukan karena disayangi
Oleh karena itu ....
Janganlah kau merasa bersalah bila dicintai
Dan jangan pula merasa berdosa bila disayangi
Aku jatuh cinta bukan karena senyumanmu
Dan juga bukan karena kecantikan raut wajahmu
Melainkan karena kepribadianmu
Yang tercermin dalam tutur bahasamu.
Tiada dosa, bagi orang yang disayangi
Salah dan dosa bukan karena dicintai
Dan juga bukan karena disayangi
Oleh karena itu ....
Janganlah kau merasa bersalah bila dicintai
Dan jangan pula merasa berdosa bila disayangi
Aku jatuh cinta bukan karena senyumanmu
Dan juga bukan karena kecantikan raut wajahmu
Melainkan karena kepribadianmu
Yang tercermin dalam tutur bahasamu.
Sabtu, 05 September 2009
Menatap 1000 Bulan
Allah Azza Wa Jalla berfirman : "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar". (QS. Al Qadar : 1-5) Malam kemuliaan dikenal dalam bahasa Indonesia dengan malam "Lailatul Qadar", yaitu suatu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan dan penuh kemuliaan, kebesaran, karena pada malam itu merupakan malam permulaan diturunkannya Kitab Suci Al-Qur'an, yaitu diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s. Al-Qur'an adalah Kitab Suci yang merupakan sumber utama dan pertama ajaran Islam, menjadi petunjuk kehidupan bagi segenap ummat manusia, sebagai salah satu rahmat yang tak ada taranya bagi alam semesta. Di dalamnya terhimpun Wahyu Ilahi yang menjadi petunjuk, pedoman dan pelajaran bagi siapa saja yang mempercayai serta mengamalkannya. Al-Qur'an adalah Kitab Suci yang terakhir diturunkan Allah Swt, yang kandungannya mencakup segala pokok-pokok syari'at yang terdapat dalam Kitab-kitab Suci yang diturunkan sebelumnya. Oleh karena itu setiap orang yang mempercayai Al-Qur'an, akan bertambah cinta kepadanya, cinta untuk membacanya, cinta untuk mempelajari dan memahaminya serta cinta pula untuk mengamalkan dan mengajarkannya sampai merata rahmatnya dirasai dan dikecap oleh penghuni alam semesta.Dalam rangka menyambut malam "Nuzulul Qur'an" dan (malam) "Lailatul Qadar" di bulan Ramadhan tahun 1430 H. inilah, maka patut kita renungkan pemikiran dan uraian seorang filosof muslim, Dr. Damardjati Supajar, dalam buku Filsafat Islam,di bawah judul Sosok Perspektif Filsafat Islam Tinjauan Aksiologis, hal. 49 s/d 52, yaitu sebagai berikut :
"The creation ... is not an event which happened in the remote past but is rather a living reality of the present. Creation is a process of evolution of which man is not merely a witness but a participant and a partner as well. (Theodosius Dobzhansky)
Pada tanggal 29-9-1991, ketika jaringan TV Jepang dan TVRI (Pusat) bersama-sama mengangkat masalah kemisterian Borobudur dalam satu paket film dokumenter berjudul The Mystery of Borobudur, terjadilah diskusi yang menarik mengenai patung "unfinished Buddha", justru bukan karena pembuatannya yang belum selesai, melainkan disengaja demikian untuk menyatakan sesuatu yang "belum selesai", artinya masih dalam proses. Ungkapan demikian itu mengingatkan kita kepada suatu buku yang berjudul The Unfinished Universe, karya Louise B.Young. Kata-kata Dobzhansky yang dikutip di atas adalah pembuka kata pengantar pada buku tersebut (Young, L.B. 1987, h. 9).
Kalau setiap kali kita menatap Borobudur dan menangkap "pesan" perihal 1000 ksatria yang terkurung dalam sangkar, dan lalu memahaminya dalam kerangka "pesan" sebelumnya - yaitu ketika 1000 patung atau candi persembahan Bandung Bondowoso untuk Pradnyaparamita, yang ternyata belum terselesaikan dalam waktu satu malam - kiranya adalah tidak arif kalau pemahaman kita itu tidak menyentuh dataran aksiologis. Kebekuan membatu dan mematungnya candi-candi di Prambanan serta keterkurungan ksatria-ksatria di dalam sangkar, bisa jadi terjadi pada diri kita dalam kaitan rasional dengan serba percepatan kehidupan modern kini, lebih-lebih nanti. Permasalahan aksiologisnya ialah, bagaimana "rahasia" membuat hidup patung 1000 dan membebaskan ksatria 1000? Itulah tugas kita, mission kita, agar kita tidak lagi "mematung" dan "terkurung" dalam kegelapan. Rahasianya adalah "menatap 1000 bulan", mengalami terang benderang makna dan maksud kejadian seperti menatap 1000 bulan purnama yang kejelasannya mencakup satuan waktu 1000 bulan, yaitu kira-kira 82 tahun. Itulah makna orientasi atau njangka "nawang wulan". Adapun lakunya, jangkahnya, langkahnya, ialah Hanyokrokusumo, mengembangkan kwalitas bunga yang berkembang atas bimbingan cahaya bulan.
Apakah yang terang benderangnya tak diragukan lagi untuk masa 1000 bulan? Kematian, kalau kita ingat bahwa peristiwa terang benderang ke-qur'an-ian itu dialami Nabi Muahmmad Saw., ketika beliau berusia 40 tahun. Dalam hubungannya dengan kematian, kita berpegang pada ayat :"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS. Ali Imran : 102). Jika demikian, kita lalu sadar bahwa bukannya kematian untuk kematian, melainkan kematian untuk kesaksian (syahadat), karena Islam itu berdiri di atas landasan syahadat. Demikian pula pergelaran alam raya ini, adalah verifikasi syahadat dengan bahasa objektif. Kalau nanti alam ini sudah digulung dan yang ada hanya tinggal wajah Allah, maka pernyataan kebenarannya tetap sama, yaitu Laa Ilaaha Illal-Laah, oleh Allah sendiri, Maaliki Yaumid-Dien. Itulah norma senormal-normal normatif,yang apabila diukur secara intelektual menunjuk kepada angka 100, justru karena rumus kecerdasan itu adalah IQ = MA/CA x 100%. MA (Mental Age) yang paling tinggi syahadat; CA (Chronological Age) terbesar atau terpanjang adalah bentangan penciptaan usia alam semesta ini. Maka kalau kita berhasil bersaksi sebenar-benar kesaksian - secara justifikatif - dalam tenggang waktu yang jauh lebih pendek atau singkat dari pada umur alam, maka kiranya kita menjadi sosok yang cerdas, sebab MA-nya tetap sedang CA-nya mengecil, yaitu sepanjang hayat kita. Dengan demikian, jelaslah kiranya bahwa pegangan hidup bagi mereka yang pada saat sakaratul maut-nya berpegang pada syahadat, akan dijamin masuk syurga.
Jadi sebaik-baik pengakuan, ialah pengakuan yang benar. Sebenar-benar pengakuan ialah syahadat. Seindah-indah syahadat ialah syahadat Allah, oleh-Nya, untuk-Nya. Kewajiban memohon ampun berlaku bagi kesalahan pengakuan; kewajiban melakukan koreksi, bagi kesalahan perbuatan.
Sekali lagi, setinggi-tinggi nilai ialah syahadat, setinggi-tinggi syahadat itu syahadat dari Allah, oleh-Nya, untuk-Nya, Maaliki Yaumid-Dien. Itulah setepat-tepat posisi Dien, sehingga jelaslah bahwa Innad-Diina 'Indallaahil-Islaam. Rahasia "waktu" lebih rumit dari pada rahasia "alam". Pengakuan itu menuntut koherensi/konsistensi sepanjang acuan temporal, pembuktian itu menuntut korespondensi struktural/ fungsional, sedemikian rupa sehingga jelaslah pola parsialitas dan integralitasnya suatu peran, mana peran pelengkap penderita, pelengkap penyerta, pelengkap pelaku, subjek pelaku. Untuk itulah perlunya suatu telaah tentang fakta, faktor, fungsi, peran dan misi.
Alam ini adalah pergelaran tahmid, "Al-hamdulil-laahi rabbil'aalamiin". Yang demikian itu berlaku secara universal, sepanjang masa, sepanjang waktu secara objektif. Dari alam-lah kita mempelajari kualitas perbuatan yang terpuji, dan melakukan koreksi apabila kita berbuat salah. Celupan alami itu meyakinkan, akan tetapi lambat dan memerlukan pengulangan demi pengulangan. Adapun Muhammad Abduhu itu adalah subjektifikasi dari tahmid alam tadi. Itulah makna kelahiran Muhammad yang identik dengan alam semesta ini. Adapun kebatinan Muhammad adalah Muhammad Rasulul-Laah Saw., yang identik dengan Nur Muhammad, pancaran wajah Allah, Nurun Alaa Nuur.
Itulah risalah islami universal dan eternal, awal-akhir, lahir bathin. Dimensi temporal - awal-akhir - dan dimensi spasial - lahir-bathin - terpadu berkat Rahman dan Rahim-Nya, yaitu manakala seseorang benar-benar memahami perannya sebagai Abdullah. Terhadap semesta kelahiran, hakekat ke-Abdul-Lah-an itu justru memerankan peran ketuhanan, terhadap semesta kebatinan, hakekat ke-Abdul-Laah-an itu justru merupakan ujung mata pedang kesaksian syahadat-Nya, Laa-Ilaaha-Illal-Laah. Momentum seperti itu oleh Iqbal, dihayati sebagai Eternal Now".
Sabtu, 15 Agustus 2009
Dokter THT 3
Dalam filsafat Aksiologi disebutkan bahwa salah satu syarat utama untuk bisa “jejer” adalah “jujur”, karena hanya dengan ke-jujur-an itulah sebuah ikatan atau hubungan akan terjalin erat dan harmonis serta langgeng. Terjalin erat, karena saling pengertian. Harmonis, karena saling harga menghargai dan saling hormat menghormati. Langgeng, karena saling memelihara segala sesuatu yang membawa kemasalahatan bagi keduanya, dan saling menghindari dari segala hal yang menyebabkan retaknya sebuah ikatan, hubungan atau jalinan. Sehingga bilamana ada salah satu pihak yang tidak memiliki sifat “jujur”, maka “jejer” tidak mungkin akan terwujud, kecuali sementara. Bila dipaksakan, maka dapat dipastikan akan timbul banyak masalah, bahkan tidaklah mustahil bila di kemudian hari akan menimbulkan banyak kerugian dan kehancuran di kedua belah pihak, baik moral maupun materiil. Oleh karena itu, hendaklah sifat "jujur" ini dijunjung tinggi, dan di tanamkan ke lubuk hati kita masing-masing, supaya kita dapat bergaul, bersahabat atau berteman dengan erat, harmonis dan langgeng, saling hormat menghormati, harga menghargai, baik di dalam lingkungan keluarga, masyarakat maupun dalam berbangsa dan bernegera.Dan hendaklah diketahui dan dipahami bahwa kata “jujur” di sini bukan hanya sekedar bertutur kata apa adanya, melainkan lebih dari itu, karena kata tersebut mengandung makna yang sangat luas dan oleh karenanya harus dipahami secara luas pula. Di antaranya adalah jujur menilai diri sendiri dan jujur pula dalam menilai orang lain. Dengan kejujuran dalam menilai diri sendiri, maka kita akan menyadari dan mengetahui segala kekurangan dan kelebihan, kelemahan dan kekuatan yang ada pada diri kita. Demikian pula ketika kita menilai orang lain, bilamana kita menilainya secara jujur, maka tentulah kita pun akan mengetahui kelebihan dan kekurangan, kekuatan dan kelemahan yang mereka miliki.
Demikianlah yang dapat saya sampaikan, sebagai pengantar berkenaan dengan kejujuran Ki Bandos dalam memberikan penilaian terhadap surat kekasihnya, Yayah Holiyah, sebagaimana secara khusus sudah saya jelaskan dalam sebuah artikel dengan judul “Surat Yayah Holiyah”, padahal yang sebenarnya Ki Bandos sendiri sedang ngambek pada kekasihnya itu, karena Yayah Holiyah pernah memanggil dirinya dengan panggilan : “Hai .., budeg …!”, sebuah panggilan yang sangat tidak disukai oleh Ki Bandos, karena dianggap sebagai penghinaan terhadap dirinya. Maklum, Ki Bandos adalah seorang pemuda santri yang serba miskin, miskin ilmu, miskin harta dan miskin rupa, sehingga mudah sekali tersinggung. Adapun kelebihan yang terdapat pada diri Ki Bandos adalah bahwa dia dapat memahami apapun yang diucapkan oleh Yayah Holiyah, sehingga Yayah Holiyah sangat mencintai dan menyayanginya. Untuk selanjutnya mari kita dengarkan dan kita simak kisahnya berikut ini. Silahkan Ki Bandos …!
Yaa ..., Terimkasih Om Syekh …!
Tidak ada kebahagiaan yang dapat dirasakan oleh setiap orang yang sedang memadu asmara, selain kebahagiaan pada saat membaca surat cinta dari seorang kekasih yang tercinta dan tersayang. Sehingga dalam bahasa bercinta seringkali terdengar kata-kata atau ucapan "ku-eja huruf demi huruf", "ku-baca kata demi kata", dan "ku-resapi kalimat demi kalimat", dst. Semua itu terjadi karena terlalu gembira dan senang membaca surat seorang kekasih. Demikian pula dengan diriku, aku sangat bahagia, tidak ada duanya, sehingga kebahagiaan hatiku itu tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Apalagi isi suratnya juga sempat bikin pusing kepalaku, pusing tujuh keliling, karena sulit dimengerti, aku betul-betul harus berpikir extra hati-hati, dengan mengeluarkan segala kemampuanku supaya bisa memahami isi surat Yayah Holiyah tersebut. Namun, setelah aku dapat memahami isi kandungannya, ternyata asyik juga, hatikupun bahagia sekali, bahkan aku ingin segera bertemu dengan Yayah Holiyah untuk melepas rasa rindu, setelah lama tidak bertemu, karena lebih dari satu minggu aku berpisah dengannya, gara-gara ucapannya yang menyinggung perasaan hatiku, dimana dia pernah memanggil diriku dengan ucapan "hai budeg ...!", yaitu pada saat menyaksikan acara ulang tahun Angkatan Bersenjata Republik Indonesia di kota Cilegon Serang Banten. (Angkatakan Bersenjata Republik Indonesia = ABRI, sekarang diganti TNI).
Surat Yayah Holiyah berbeda dengan surat-surat yang ditulis oleh orang lain pada umumnya. Perbedaan itu terletak pada format suratnya. Jika aku menulis surat maka yang pertama kusebut adalah nama orang yang dituju misalnya, "Kepada Yth : Yayah Holiyah di Tempat", atau "Untuk kekasihku Yayah Holiyah di Tempat", kemudian salam "Assalamu'alaikum Wr. Wb. .." atau "Dengan Hormat", dan sebagainya. Tetapi bagi Yayah Holiyah tidaklah demikian. Dia mengucapkan salam terlebih dahulu kemudian berkata : “Dari Yayah Holiyah, untuk kekasih Yayah Holiyah”.
Itulah awal kata dari surat Yayah Holiyah yang diberikan kepadaku. Aku merasa bahwa surat ini adalah merupakan sebuah surat yang luar biasa dan mengandung makna yang sangat dalam serta sangat mengesankan bagi diriku, karena selama aku berpacaran, baru kali ini membaca surat yang dimulai dengan menyebut nama pengirimnya. Selain itu, surat ini adalah merupakan surat pertama yang kuterima semenjak Aku menjalin hubungan cinta dengan Yayah Holiyah. Sehingga ketika aku membaca kalimat “Dari Yayah Holiyah …”, terbayanglah di dalam pikiranku seakan-akan dia berada di depan mata, duduk bersanding di sisiku dan mengajak diriku untuk berbicara dari hati ke hati, dan seakan-akan dia berkata : “Bila AA masih bersedia mendengarkan ucapan Yayah, silahkah surat ini dibaca sampai selesai, sebaliknya jika AA tidak berkenan, maka cukuplah sampai di sini … dan silahkan surat ini ditutup kembali …!”, tanpa terasa hatikupun berkata “Masya Allah …”, sebagai ungkapan kekagumanku terhadap kepiawian Yayah Holiyah di dalam menarik perhatian hatiku. Apalagi di dalam kalimat itu juga ditegaskan bahwa orang yang diajak bicara adalah diriku sebagai kekasihnya, dengan mengatakan “ …. untuk kekasih Yayah Holiayh”, maka ketika aku sedang memperhatikan kalimat itu akupun berkata di dalam hati “Masya Allah …, masya Allah …, sungguh dia adalah seorang gadis yang memiliki pengertian yang sangat dalam”.
Aku berkata demikian karena setelah kuperhatikan dengan seksama ternyata kalimat tersebut terdiri atas tujuh kata. Di mana bilangan angka tujuh (7) ini mengandung banyak makna, sehingga akupun tidak bisa memastikan makna mana yang dimaksudkan oleh Yayah Holiyyah, aku sama sekali tidak mengerti dan tidak tahu, kecuali hanya mengira-ngira, menerka-nerka dan membuat catatan untuk dapat mengetahui secara pasti terhadap apa yang diisyaratkan oleh Yayah Holiyah dalam perkataannya itu. Namun, sia-sia belaka karena Aku sama sekali tidak bisa menemukan makna yang sebenarnya atau tidak bisa mengambil kesimpulan apa-apa. Dari beberapa catatanku itu terdapat banyak kemungkinan, yaitu : Tujuh bacaan yang dibaca berulang-ulang pada waktu menunaikan ibadah sembahyang, yaitu surat Al-Faatihah. Tujuh ayat, yaitu ayat-ayat dalam surat Al-Fatihah. Tujuh surat yang terpanjang dalam al-Quran yaitu, surat Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisa, Al Maidah, Al-An’am, Al-A’raf, At-Taubah. Tujuh macam bacaan al-qur’an, yang disebut qira’at sab’ah. Tujuh huruf (bahasa) al-Qur’an. Tujuh lapis bumi dan Tujuh lapis langit. Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesunguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. (Qs. Ath-Thalaq: 12). Tujuh macam syurga, yaitu Jannatul Firdaus, Jannatun Na’iim, Jannatul Ma-wa, dll. Tujuh macam neraka, yaitu: neraka Jahannam, neraka Jahim, neraka Khuthomah, neraka Lazho, neraka Hawiyah, neraka Sa’ir, dan neraka Saqar. Tujuh pintu syurga (laha sab’atu abwab). Tujuh pintu neraka (laha sab’atu abwab). Tujuh anggota tubuh manusia, yaitu dua belah kaki, dua belah tangan, dua belah lutut, dan satu wajah atau muka. Dua belah kaki untuk berhidmah kepada Allah, dua belah tangan untuk berdo’a kepada-Nya, dua belah lutut untuk duduk dalam sholat, satu wajah untuk bersujud kepada-Nya. Tujuh masa kehidupan manusia, yaitu ar-Radlii' (masa menyusu), Fathim (masa disapih), Al-Ghulam (masa kanak-kanak), Ash-Shabiy (masa remaja), Syabun (masa muda), Kahlun (masa dewasa) dan Syaikhun (masa tua). Tujuh kata/kalimat dalam kalimat thoyyibh, yaitu : Laa Ilaaha Illa Allaah Muhammadur-Rasul Allah (Tidak ada Tuhan selain Allah, Nabi Muhammad adalah utusan Allah). Tujuh Nabi dan Rasul Allah yang paling mulia. Tujuh hari dalam satu minggu, yaitu Sabtu, Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis dan Jum’at. Tujuh masa penciptaan langit dan bumi, Tujuh macam lubang pada manusia, yaitu dua lubang telinga, dua lubang hidung, satu lubang mulut, satu lubang depan dan satu lubang belakang. Tujuh lautan, sab’atu abhurin : "Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (Qs. Luqman: 27). Tujuh macam bulu/rambut manusia, yaitu rambut kepala, kumis, jenggot, bulu alis, bulu mata, bulu ketek, dan bulu itu tuh ....., di mana bulu-bulu tersebut masing-masing memiliki fungsi tersendiri. Tujuh bulir atau tujuh tangkai, yang disebut sab’a sanaabil, sebagai perumpamaan pahala yang akan diterima oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya pada jalan Allah, di mana mereka akan memperoleh pahala berlipat ganda. Tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk di makan oleh Tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus, Tujuh bulir gandum yang hijau dan Tujuh bulir gamdum yang kering, sebagaimana yang dilihat dalam mimpi oleh seorang Raja Mesir. Tujuh tahun masa panen/subur yang terjadi pada jaman Nabi Yusuf a.s. Tujuh tahun masa kemarau panjang/paceklik juga yang pernah terjadi pada jaman Nabi Yusuf a.s. Tujuh orang pemuda beriman ash-Habul Kahfi, yang ditidurkan oleh Allah di dalam gua selama 309 tahun. Tujuh peristiwa besar yang akan terjadi pada hari kiamat. Tujuh macam hewan atau binatang bersejarah, yaitu : Burung Merpati yang pernah disembelih oleh Nabi Ibrahim a.s. kemudian atas kekuasaan Allah, burung tersebut hidup kembali; Burung Hud-hud yang menjadi juru pengantar surat Nabi Sulaiman kepada Ratu Bilqis; Laba-laba penganyam sarang di depan pintu Gua Tsur pada saat Nabi Saw. dan Abu Bakar Shiddiq r.a. berada di dalamnya; Himar teman setia hamba Allah yang bernama Uzeir; Semut, yang pernah terdengar percakapannya oleh Nabi Sulaiman; Qithmir penjaga pintu gua Ash-Habul Kahfi; dan Rayap yang memakan tongkat Nabi Sulaiman a.s. (Bersambung)
Rabu, 12 Agustus 2009
Surat Yayah Holiyah
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Dari Yayah Holiyah untuk kekasih Yayah Holiyah.
Tiada ucapan yang lebih baik diucapkan selain ucapan mohon maaf. Oleh karena itu, dengan setulus hati Yayah mohon maaf pada AA atas segala kesalahan dan kehilafan Yayah. Dan tiada harapan yang lebih menyenangkan hati selain harapan ketulusan AA untuk mendengarkan suara hati Yayah, yang hendak Yayah ungkapkan lewat buah pena Yayah berikut ini :
Sebutir biji rambutan, akan tumbuh sebatang pohon rambutan.
Sebutir biji durian, akan tumbuh sebatang pohon durian.
Sehingga tidak mungkin dari biji rambutan tumbuh sebatang pohon durian,
dan tidak mungkin pula dari biji durian tumbuh sebatang pohon rambutan.
Dari Yayah Holiyah untuk kekasih Yayah Holiyah.
Tiada ucapan yang lebih baik diucapkan selain ucapan mohon maaf. Oleh karena itu, dengan setulus hati Yayah mohon maaf pada AA atas segala kesalahan dan kehilafan Yayah. Dan tiada harapan yang lebih menyenangkan hati selain harapan ketulusan AA untuk mendengarkan suara hati Yayah, yang hendak Yayah ungkapkan lewat buah pena Yayah berikut ini :
Sebutir biji rambutan, akan tumbuh sebatang pohon rambutan.
Sebutir biji durian, akan tumbuh sebatang pohon durian.
Sehingga tidak mungkin dari biji rambutan tumbuh sebatang pohon durian,
dan tidak mungkin pula dari biji durian tumbuh sebatang pohon rambutan.
Hati yang baik, akan mengeluarkan perkataan yang baik.
Hati yang tidak baik, akan mengeluarkan perkataan yang tidak baik.
Sehingga tidak mungkin hati yang baik,
mengeluarkan perkataan yang tidak baik,
dan tidak mungkin pula hati yang tidak baik,
mengeluarkan perkataan yang baik.
Jika hati yang tidak baik mengeluarkan perkataan yang baik,
maka nilainya tidak sama dengan perkataan yang baik,
yang keluar dari hati yang baik.
meskipun kalimat yang diucapkannya sama-sama baik
Apabila hati yang baik mengeluarkan perkataan yang tidak baik,
maka hal yang demikian itu adalah karena keterpaksaan,
sedangkan hati yang tidak baik bila mengucapkan perkataan yang tidak baik
maka hal yang demikian itu adalah karena keterbiasaan.
Perkataan yang baik yang keluar dari hati yang tidak baik
adalah membahayakan
Perkataan yang tidak baik yang keluar dari hati yang baik
adalah menyelamatkan
Kekasih Yayah ... yang tersayang …!
Yayah Holiyah adalah seorang gadis cantik manis rupawan tetapi tidak pernah membangga-banggakan kecantikannya. Karena menurut pandangan Yayah Holiyah, bahwa kecantikan seseorang itu bukanlah untuk dibangga-banggakan melainkan untuk di syukuri. Dia adalah anak seorang bangsawan yang terpandang, tetapi kebangsawanannya tidak membuatnya lupa dan menyombongkan diri, karena menurut keyakinannya, bahwa harta dan kekayaan tidak akan berarti sama sekali bila tidak punya hati. Oleh karena itu, dia senantiasa menjaga lisan maupun tulisan dari perkataan-perkataan yang dianggap dapat menodai kesucian hatinya. Seperti kalimat “hati yang jahat, hati yang kasar, hati yang buruk, hati yang dengki, munafik” dan sebagainya. Sebagai gantinya dia menggunakan kalimat: “hati yang tidak baik” . dimana maknanya mencakup hati yang jahat, hati yang kasar, hati yang buruk, dan semua kalimat yang searti dengan itu. Yayah Holiyah tidak menggunakan kalimat-kalimat tersebut, khususnya dalam suratnya yang ditujukan kepada Ki Bandos, karena dianggap dapat menodai kesucian hatinya yang senantiasa terjaga dan terpelihara semenjak masa kanak-kanak hingga usia remaja berkat didikan dan bimbingan kedua orang tuanya.
Yayah Holiyah memiliki pandangan hidup bahwa baik buruknya suatu perbuatan maupun ucapan tergantung pada hatinya. Bila hatinya baik, maka perbuatan dan ucapannya pun akan baik pula, sebaliknya bila hatinya tidak baik maka segala tingkah laku dan perkataannya tidak baik pula. Sehingga, dalam pergaulan sehari-hari misalnya, dia sangat hati-hati dalam bertutur kata. Bila ada temannya yang mengucapkan kata-kata yang menyinggung perasaan atau menyakitkan hatinya, maka selalu di balas dengan sebuah kiasan dimana yang apabila dicerna justru akan menambah wawasan bagi orang yang dimaksud dengan perkataannya itu, misalnya "alangkah indahnya bila sang surya tersembunyi di balik awan yang megah". Dengan perkataannya ini, Yayah Holiyah bermaksud memberitahukan kepada temannya bahwa ucapannya sangat menyakitkan hatinya sebagaimana sengatan teriknya matahari di siang hari. Bila temannya tidak melakukan perubahan, melainkan tetap menghina secara berlebihan, maka kiasan tersebut akan diucapkan dengan mengganti kalimat "di balik awan yang megah" menjadi "di balik awan yang hitam kelam", sehingga berbunyi "alangkah indahnya bila sang surya tersembunyi di balik awan yang hitam kelam ", sebagai peringatan keras terhadap sikap temannya itu, di mana kalimat "awan yang hitam kelam" mengandung arti "hati yang hitam pekat".
Dan seperti kalimat “perkataan yang tidak baik”, maka yang dimaksud oleh Yayah Holiyah adalah semua perkataan yang dapat menyinggung perasaan hati orang lain. Misalnya perkataan yang mengandung unsur penghinaan, pelecehan, merendahkan derajat orang lain, merusak kehormatan dan nama baik seseorang, dan atau seperti kata-kata: anjing, kurang ajar, bohong, munafik, bodoh, dungu, penipu, jahat, dll. Kata-kata yang seperti ini selalu dihindari (tidak diucapkan) oleh Yayah Holiyah dalam pergaulannya sehari-hari baik di luar rumah maupun ketika berada di dalam rumah, karena menurut pandangan Yayah Holiyah bahwa kata-kata tersebut tidak sepantasnya diucapkan oleh orang-orang yang memiliki hati yang mulia.
Menurut pandangan Yayah Holiyah bahwa baik tidaknya sebuah perkataan tergantung pada hatinya, bukan pada kalimatnya. Sehingga, meskipun kalimatnya sama persis, tapi kalau hatinya berbeda yaitu hati yang baik dan hati yang tidak baik, maka nilainya tetap berbeda. Oleh karena itulah dia berkata kepada Ki Bandos : "Apabila hati yang tidak baik mengeluarkan perkataan yang baik, maka nilainya tidak sama dengan perkataan yang baik yang keluar dari hati yang baik, meskipun kalimat yang diucapkannya sama-sama baik". Misalnya kalimat "Allahu Akbar". Bila kalimat ini diucapkan oleh orang-orang yang beriman, maka dapat dipastikan mengandung nilai ibadah, sedangkan bila diucapkan oleh orang-orang yang munafik, maka dapat dipastikan tidak mengandung nilai ibadah, karena tidak berpahala, akibat kemunafikan atau kekafirannya.
Kemudian yang dimaksud dengan “Perkataan yang baik yang keluar dari hati yang tidak baik adalah membahayakan”, yaitu perkataan manis yang diucapkan, misalnya, oleh seorang penipu. Sedangkan yang dimaksud dengan “Perkataan yang tidak baik yang keluar dari hati yang baik adalah menyelamatkan”, ysitu misalnya perkataan seorang guru terhadap seorang siswa yang tidak mentaati tata tertib sekolah. Di mana betatapun pahitnya perkataan guru tersebut bilamana diindahkan tentulah sangat bermanfaat dan sangat berguna bagi siswa, misalnya tidak dikeluarkan dari sekolah, sehingga ia dapat melanjtukan belajar sampai tamat belajar, yang berarti menyelamatkan masa depan dirinya (siswa) sendiri.
Surat Yayah Holiyah sebagaimana tersebut di atas adalah merupakan surat pertama yang diberikan kepada Ki Bandos, yang dijadikan sebagai dasar pengakuan atas kesalahan dirinya sendiri terhadap Ki Bandos yang pernah dilakukannya pada tanggal 5 Oktober 1981 di Kota Cilegon Serang Banten. Dengan kata lain bukan untuk membela diri atau untuk membenarkan apa yang telah diucapkannnya. Karena, Yayah Holyah berpedoman bahwa mengakui kesalahan yang memiliki dasar adalah lebih baik daripada mengaku benar tapi tanpa dasar.Adapun kalimat atau bait yang dijadikan dasar pengakuan atas kesalahannya adalah :
Sebutir biji rambutan, akan tumbuh sebatang pohon rambutan.
Sebutir biji durian, akan tumbuh sebatang pohon durian.
Sehingga tidak mungkin dari biji rambutan tumbu sebatang pohon durian,
dan tidak mungkin pula dari biji durian tumbuh sebatang pohon rambutan.
Kalimat-kalimat tersebut dipahami oleh Yayah Holiyah bahwa jika ada dari biji rambutan tumbuh sebatang pohon durian atau dari biji durian tumbuh sebatang pohon rambutan, maka di situ dapat dipastikan telah terjadi sebuah rekayasa. Setiap rekayasa adalah mengandung unsur penipuan. Setiap penipuan sekecil apapun pasti salah. Kesalahan sekecil apapun harus diakui dan disadari. Bila tidak diakui akan beraibat tidak baik bagi diri sendiri. Oleh karena itulah Yayah Holiyah mengaku bersalah terhadap Ki Bandos dan minta maaf lahir bathin.
Untuk selanjutnya, Yayah Holiyah mengingatkan pada Ki Bandos supaya menilai tentang dirinya secara proposional, objektif, apa adanya, apakah dirinya termasuk seorang gadis yang berhati baik atau mungkinkah justeru sebaliknya, dan apakah perkataan yang pernah diucapkannya itu dilakukan karena terpaksa atau memang sudah menjadi kebiasaan bagi dirinya? Oleh karena itulah ia berkata :
Apabila hati yang baik mengeluarkan perkataan yang tidak baik
maka hal yang demikian itu adalah karena keterpaksaan
sedangkan hati yang tidak baik bila mengucapkan perkataan yang tidak baik
maka hal yang demikian itu adalah karena keterbiasaan
Jika Ki Bandos menilai dirinya termasuk seorang gadis yang berhati baik dan apa yang dilakukan atau yang pernah diucapkannya adalah karena terpaksa misalnya, maka Yayah Holiyah pun mengingatkan pada Ki Bandos bahwa permintaan maaf pada dirinya itu bukan atas dasar karena keterpaksaan dalam melakukan suatu perbuatan atau ucapan, melainkan karena atas dasar kesadaran bahwa dirinya telah melakukan pelanggaran terhadap perinsip-perinsip hidupnya yang telah ditanamkan oleh kedua orang tuanya. Hal ini diungkapkan dalam suratnya yaitu pada bait sebagai berikut :
Hati yang baik, akan mengeluarkan perktaan yang baik.
Hati yang tidak baik, akan mengeluarkan perkataan yang tidak baik.
Sehingga tidak mungkin hati yang baik ,
mengeluarkan perkataan yang tidak baik,
dan tidak mungkin pula hati yang tidak baik,
mengeluarkan perkataan yang baik
Mengapa demikian? (Bersambung)
Senin, 10 Agustus 2009
ANALOGI CINTA 2
Kemudian, mengapa saya mengatakan bahwa kita sama sekali tidak dibenarkan mengkambing-hitamkan orang lain, apalagi menyalahkannya? Karena, segala sesuatunya bersumber dari hati sanubari dan diri kita sendiri. Pada saat dicinta misalya, hati kita akan merasakan bahagia bilamana di dalam hati kita ada rasa cinta. Sebaliknya, jika tidak ada rasa cinta, maka meskipun seribu orang mencintai dan meyayangi diri kita, hati kita tidak akan merasakan kebahagian apa pun juga. Itulah yang dimaksud dengan segala sesuatuya bersumber dari hati sanubari dan diri kita sendiri. Hal ini dapat diumpamakan segelas air madu dengan lidah kita. Bila lidah kita dalam keadaan normal, tentulah akan terasa manis dan lezat, tetapi kalau lidah kita dalam keadaan tidak normal (abnormal), maka dipastikan tidak akan dapat merasakan manisnya madu tersebut. Nah, kalau dalam kenyataannya lidah kita sendiri yang abnormal, mengapa kita harus menyalahkan orang lain? Lantas, bagaimana kalau gelas tadi berisi racun atau ampedu misalnya? Dari sini pun dapat dimengerti bahwa yang dapat merasakan atau mengetahui isi gelas itu adalah racun atau ampedu, hanyalah lidah yang normal, sedangkan lidah yang abnormal tidak akan dapat merasakannya sebagaimana ketika ia (lidah) mencicipi air madu. Dengan demikian lidah yang normal adalah lebih baik dari pada lidah abnormal. Maksudnya, lebih baik memiliki rasa cinta, meskipun tidak ada seorang pun yang mencintai diri kita, dari pada banyak orang yang mencintai diri kita, tetapi di dalam hati kita tidak ada rasa cinta. Sebab, hati yang tidak memiliki rasa cinta adalah kematian, sedangkan hati yang memiliki rasa cinta adalah kehidupan. Kehidupan adalah lebih baik daripada kematian.
Memang, menyalahkan diri sendiri adalah termasuk pekerjaan yang sangat sulit dan maha berat, tidak mudah dilakukan. Penulis pribadi selama puluhan tahun sampai sekarang belum bisa melakukan hal itu. Sedangkan mengkambing-hitamkan dan menyalahkan orang lain, teman, pacar, suami, isteri misalnya, adalah termasuk pekerjaan yang paling mudah dan gampang, kapan saja bisa kita lakukan. Namun, hendaklah diingat, bahwa perbuatan menyalahkan orang lain itu adalah termasuk perbuatan yang sangat merugikan diri kita sendiri di samping dapat menyakiti hati orang lain. Pertama, kita tidak akan pernah mengerti tentang kesalahan, kelemahan dan kekurangan diri kita, karena orang yang menyalahkan orang lain itu biasanya menganggap dirinya paling benar, lebih baik dan sebagainya, sehingga diri kita pun akan menghadapi kesulitan di dalam melakukan perbaikan dan meningkatan kwalitas hidup yang lebih bermanfaat dan berguna baik bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lian. Kedua, secara tidak langusng mengajari orang lain membenci diri kita. Kalau hanya membeci diri kita itu mendingan, tapi bahayanya kalau dia sampai membenci orang lain yang tak bersalah, tentulah akan berakibat lebih berat. Ketiga, dapat menyebabkan sirnanya benih-benih cinta yang kita miliki, karena menyalahkan seseorang itu biasanya didorong oleh rasa tidak suka (benci). Sifat benci dan sifat cinta adalah dua sifat yang berlawanan, yang tidak mungkin dapat bertemu dalam satu waktu dan tempat, perumpamaanya seperti siang dan malam. Dengan demikian tanpa di sadari kita telah menanamkan bibit-bibit kebencian ke dalam hati kita sendiri. Keempat, akan menimbulkan berbagai macam penyakit hati, seperti hasud, takabbur, riya, dan suka mencari-cari kesalahan orang lain. Kelima, kita tidak akan dapat merasakan manisnya cinta, karena hati kita sudah dipenuhi rasa kebencian. Keenam, hidup kita akan selalu diselimuti oleh rasa resah dan gelisah, tidak ada ketentraman hati, karena orang yang kita persalahkan cepat atau lambat akan melakukan pembalasan kepada kita baik berupa perbuatan maupun perkataan, Ketujuh, dapat mengikis habis sifat jujur yang ada pada diri kita, yaitu jujur dalam menilai diri sendiri dan jujur dalam menilai orang lain, padahal sifat jujur ini adalah merupakan salah satu syarat utama untuk bisa jejer, yaitu terjalinnya hubungan yang harmonis antara yang satu dengan yang lainnya, baik dalam kehidupan berumah tangga, bermasyarakat maupun berbangsa dan bernegara.
Itulah di antara akibat yang akan kita terima/derita bilamana kita sering kali menyalahkan orang lain. na'udzu billaahi min dzaalik. Maka salah satu cara supaya kita tidak mudah menyalahkan orang lain, ialah hendaklah kita berpegang/berpedoman pada dua kata, yaitu PLUS dan MINUS. Plus dalam arti tambah, lebih atau kelebihan. Minus dalam arti kurang atau kekurangan. Plus kita gunakan untuk melihat kelebihan orang lain, sedangkan Minus kita gunakan untuk melihat kekurangan diri kita sendiri. Apabila kita mau bersikap jujur dan adil, tentulah kita akan mengetahui dan mengerti bahwa teman kita, saudara kita, pacar kita, suami kita, isteri kita dan lainnya, disamping ada kekurangannya juga pasti memiliki banyak kelebihan (plus). Begitu juga ketika kita menilai diri kita sendiri, disamping ada sedikit kelebihan, juga pasti banyak kekurangannya (minus), baik dalam masalah ilmu, amal perbutan, perilaku, kedudukan, harta kekayaan maupun lainnya. Dengan cara demikian, Insya Allah, hawa nafsu kita, ego kita, kekerasan hati kita, kesombongan kita, dengan mudah akan dapat kita tundukkan dan kita kendalikan, sehingga kita pun tidak akan terlalu sulit untuk menghomati dan menghargai orang lain. Apabila kita sudah terbiasa menghormati dan menghargai orang lain dalam arti yang sebenarnya, yaitu dengan setulus hati, semata-mata karena mengharap ridlo Allah SWT., maka dengan sendirinya diri kita akan terhindar dari sifat-sifat yang tercela, misalnya: hasud, takabbur, buruk sangka, pengumpat, dan sebagainya. Dan dengan sendirinya pula sifat-sifat terpuji akan menghiasi diri kita. Misalnya, sabar, jujur, lapang dada, andap asor, selalu berbaik sangka terhadap orang lain, dan lain sebagainya. Sehingga ketika kita melihat teman kita melakukan suatu perbuatan yang tercela, mencuri misalnya, maka kita pun tidak akan tergesa-gesa menghukumi mereka, melainkan hanya sekedar mencari tahu atau menanyakan pada diri kita sendiri tentang sebab-musababnya kemudian melakukan tindakan nyata demi kebaikan mereka. Misalnya: "Mengapa dia melakukan hal itu?", atau "Apa sebabnya dia mencuri?" dan sebagainya.
Pada saat-saat seperti inilah, yaitu ketika teman kita melakukan perbuatan yang tercela, kelebihan dan kemampuan kita akan terukur dan teruji. Apakah diri kita betul-betul memiliki kelebihan atau mungkinkah justeru sebaliknya? Kalau memang diri kita memiliki kelebihan tentulah akan melakukan sesuatu yang berguna untuk mereka, memberikan solusi terbaik bagi mereka, sehingga mereka terhindar atau berhenti dari kebiasaan-kebiasaan buruknya. Sebaliknya, jika kita tidak mampu melakukan sesuatu pun untuk mereka, maka berarti diri kita pun sebenarnya sama saja dengan mereka, yaitu sama-sama tidak memiliki kemampuan untuk melakukan perbaikan. Oleh karena itu alangkah baiknya jika kita akui dengan setulus hati bahwa sesungguhnya diri kita ini tidak memiliki kelebihan atau kemampuan apa-apa, kecuali sedikit sekali. Dengan pengakuan semacam inilah kita akan bersikap hati-hati dan tidak mudah menyalahkan terhadap segala sesuatu yang dilakukan oleh orang lain yang kita anggap kurang baik.
(Bersambung ke : ANALOGI CINTA 3)
JANGAN SALAHKAN DIRIKU
Jangan salahkan diriku, bila aku mencintaimu,
karena cinta yng ada di dalam hatiku,
adalah anugerah dari Tuhanku dan Tuhanmu
Dan jangan salahkan diriku, bila aku menyayangimu,
karena kasih sayang yang berada di dalam hatiku,
adalah karunia dari Tuhanku dan Tuhanmu
Bila kau hendak membenci, bencilah aku
Bila kau hendak menyakiti, sakitilah hatiku
Bila kau hendak membunuh, bunuhlah diriku
Aku akan tatap mencinta dan menyayangimu
Karena cintaku padamu adalah cinta sejati ...
Lebih baik aku dibenci karena mencintaimu
dari pada dicintai tapi menyakiti hatimu
Dibenci karena mencintai, adalah kemenangan
Mencintai tapi menyakiti adalah pengkhianatan
Pengkhianatan adalah identik dengan kejahatan
Kejahatan adalah sumber berbagai penderitaan
karena cinta yng ada di dalam hatiku,
adalah anugerah dari Tuhanku dan Tuhanmu
Dan jangan salahkan diriku, bila aku menyayangimu,
karena kasih sayang yang berada di dalam hatiku,
adalah karunia dari Tuhanku dan Tuhanmu
Bila kau hendak membenci, bencilah aku
Bila kau hendak menyakiti, sakitilah hatiku
Bila kau hendak membunuh, bunuhlah diriku
Aku akan tatap mencinta dan menyayangimu
Karena cintaku padamu adalah cinta sejati ...
Lebih baik aku dibenci karena mencintaimu
dari pada dicintai tapi menyakiti hatimu
Dibenci karena mencintai, adalah kemenangan
Mencintai tapi menyakiti adalah pengkhianatan
Pengkhianatan adalah identik dengan kejahatan
Kejahatan adalah sumber berbagai penderitaan
Minggu, 09 Agustus 2009
ANALOGI CINTA 1
Seorang teman pernah mengusulkan kepada saya supaya situs Ki Bandos Nyantri diganti dengan nama Jalinan Cinta atau Jalinan Asmara. Alasannya karena sejak pertama kali aktif sampai hari ini, artikel-artikelnya lebih banyak bicara masalah cinta. Mulai dari artikel Dokter THT 1 sampai dengan artikel yang terakhir, yaitu Kusebut Namamu. Usulan ini termasuk usulan yang sangat bagus, karena dapat menggugah hati saya untuk menulis sebuah artikel di bawah judul ANALOGI CINTA. Di mana judul ini sebelumnya sama sekali tidak pernah terbayangkan dan tidak pula terpikirkan. Di samping itu, saya juga tidak pernah merencanakan untuk menerangkan masalah cinta, definisi cinta, pengertian cinta, hikmah atau manfaat dari sebuah cinta, karena saya bukan orang yang ahli dalam bidang itu. Akan tetapi karena ada usulan dari temanku tadi (meskipun yang sebenarnya bukan dimaksudkan untuk menyuruh menulis artikel yang berkaitan dengan masalah cinta), namun karena masalah cinta ini penting untuk dibacarakan, maka saya akan mencoba untuk menguraikannya sesuai dengan pemahaman yang ada pada diri saya. Apa saja manfaat dan hikmah dari sebuah cinta yang dimiliki oleh seseorang dan apa akibatnya bila seseorang di dalam hatinya tidak ada rasa cinta atau benih-benih cinta?. Kemudian, di bagian akhir artikel ini akan diketengahkan beberapa ayat-ayat Al Qur’an sebagai bahan renungan, dengan harapan semoga kita dapat mengerti betapa pentingnya sebuah cinta sebagai bekal utama dalam mengarungi kehidupan di dunia yang fana ini.
Di dalam kitab Hikayah Al-Alamiyyah diterangkan bahwa cinta itu ada empat macam, yaitu : Pertama,. cinta kepada Allah Azza Wa Jalla, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kedua, cinta kepada seorang isteri atau suami. Ketiga, cinta kepada anak keturunan, cucu, buyut dan seterusnya. Dan yang terakhir atau yang Keempat, ialah cinta kepada sanak saudara, sanak keluarga, kerabat, teman atau sahabat karib lainnya. (Saya pernah membaca kitab ini sekitar 4 tahun yang lalu di rumah seorang teman. Oleh karena itu bila ada kekeliruan di dalam menyebut judul atau nama kitab dan mengenai macam-macam cinta, saya minta maaf lahir dan bathin. Terima kasih.)
Cinta terhadap seorang isteri atau suami, akan dapat mendatangkan kebahagiaan baik lahiriyah maupun bathiniyah. Kebahagiaan lahiriyah, misalnya pada waktu berjalan bersama atau sedang duduk bersanding berduaan dan bersenda gurau di depan beranda rumah. Sedangkan kebahagiaan bathiniiyah ialah kebahagiaan ketika berada di tempat tidur, yaitu pada saat melakukan hubungan titik-titik. Di mana kebahagiaan ini adalah merupakan puncak dari segala kebahagiaan hidup di dunia. Namun, kebahagiaan dari seorang isteri atau suami ini hanya bersifat sementara yaitu pada saat ia masih hidup bersama dalam sebuah ikatan rumah tangga. Sedangkan bila salah satunya telah meninggal dunia atau bercerai misalnya, maka kebahagiaan yang pernah dialaminya itu seakan-akan tak pernah ada. Adapun cinta terhadap sanak saudara hanya akan memberikan kebahagiaan lahiriyah saja. Sehingga betatapun kita cinta dan sayangnya kepada mereka, mereka tidak mungkin dapat memberikan kebahagiaan bathiniyah sebagaimana kebahagiaan bathiniyyah yang diperoleh dari seorang isteri atau suami yang saling mencintai dan menyayangi. Begitu juga cinta terhadap anak keturunan, kerabat, sahabat atau pun teman dekat lainnya. Maka untuk memperoleh kebahagiaan lahiriyah dan bathiniyah yang kekal abadi adalah kita wajib beriman dan bertakwa serta cinta kepada Allah Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih, Pencipta alam semesta.
Dari sekelumit uraian tersebut dapat diketahui bahwa cinta yang dimiliki oleh seseorang akan dapat menghantarkan dirinya ke sebuah kehidupan yang penuh kebahagiaan baik lahiriyah maupun bathiniyah, baik yang bersifat sementara maupun yang bersifat kekal abadi. .Dan dapat pula dimengerti bahwa cinta memiliki peranan yang sangat penting dalam kelangsungan hidup manusia di muka bumi ini. Dengan bermodalkan cinta setulus hati, banyak sekali orang-orang yang dapat menjalin hubungan cinta sejati, dan terikat dalam sebuah ikatan mulia nan suci, yang disebut ikatan sebagai suami isteri, kemudian melahirkan anak keturunan yang banyak sekali, memenuhi alam dunia ini. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa cinta adalah merupakan kelangsungan hidup bagi manusia. Sebab, bila tanpa didasari dengan rasa cinta walau hanya sebesar biji sawi misalnya, niscaya manusia tidak akan mungkin mau bersedia untuk hidup bersama, berduaan, hidup seia sekata dalam mahligai rumah tangga. Sehingga, tak mungkin pula seorang perempuan dapat melahirkan seorang anak, bila dirinya tidak pernah melakukan hubungan titik-titik dengan seorang lelaki. Bila seorang wanita tidak melahirkan seorang anak pun jua, maka tentu dunia ini akan menjadi ruangan maha luas tapi hampa dan sepi karena tidak ada manusia. Dengan demikian, sekali lagi saya katakan bahwa cinta adalah merupakan kelangsungan hidup bagi ummat manusia.
Dan dengan rasa cinta yang dimilikinya, banyak sekali di antara saudara-saudara kita yang berjuang mempertaruhkan jiwa dan ragannya serta harta bendanya semata-mata demi membela agama, nusa dan bangsanya, sehingga lahirlah bunga-bunga bangsa yang disebut pahlawan nasional. Dengan demikian tidaklah berlebihan bila saya mengatakan bahwa cinta adalah merupakan sumber kekuatan dan perjuangan untuk memerangi kejahatan dan penjajahan di muka bumi ini, khususnya Negara Republik Indonesia yang kita cintai ini. Bila tidak ada seorang pun yang memiliki rasa cinta terhadap negera, agama, nusa dan bangsanya, niscaya kehidupan kita saat ini berada di bawah kaki-kaki penjajah yang tak berperikemanusiaan, yang kekejamannya sangat menyakitkan hati orang-orang yang tak berdosa. Tapi, dengan berkat perjuangan mereka, jadilah bangsa dan negara kita sebagai bangsa dan Negara yang merdeka. Dan kita pun dapat hidup tenteram, aman dan bahagia di dalamnya.
Serta dengan rasa cinta pula, tidak sedikit di antara saudara-saudara kita yang menyingsingkan lengan bajunya untuk mempelajari dan memperdalam berbagai macam cabang ilmu pengetahuan baik ilmu pengetahuan agama maupun ilmu pengetahuan umum, sehingga lahirlah lentera-lentera bangsa yang disebut ulama, kiyai, ustadz dan atau sarjana, guru, dosen dan sebagainya. Dari merekalah kita mengerti tentang huruf-huruf hijaiyah, huhurf-huruf abjad, a-i-u-e-o, dan dari mereka pula-lah kita dapat membedakan barang yang halal dari yang haram. Dan dapat pula membedakan yang baik dari yang buruk. Apabila tidak ada seorang pun yang mempelajari dan memperdalam ilmu pengetahuan, baik ilmu pengetahuan agama maupun ilmu pengetahuan uimum, niscaya hidup kita saat ini berada dalam kegelapan dan bergelimang dalam kesesatan penuh kenistaan. Dalam filsafat islam dikatakan bahwa apabila tanpa ilmu niscaya manusia itu seperti binatang. Dengan demikian, dapatlah kita katakan bahwa cinta adalah merupakan sumber ilmu pengetahuan.
Di samping itu, cinta juga dapat berguna sebagai obat yang paling mujarab bagi orang-orang yang masih hidup sendirian, karena belum punya pacar, alias masih ngejomblo, di mana hati mereka selalu diselimuti oleh rasa kesepian yang mendalam, rasa kebosanan hidup, jemu, kebekuan hati dan sebagainya Tapi, dengan bercinta hati mereka menjadi senang gembira. semangat hidup pun semakin menigkat, dan bekerja pun bertambah giat, karena selalu di dampingi oleh sang kekasih yang semakin hari bertambah lengket. Meskipun berjauhan misalnya, tetapi hati mereka tetaplah berdekatan karena adanya rasa cinta dan kasih sayang. Dengan demikian, dapatlah kita sebut bahwa cinta adalah sebagai obat kesepian., sebagai obat kejemuan, obat kebekuan, dan sebgai obat kebosanan hidup di alam dunia ini. Oleh karena itu, bagi mereka yang belum punya kekasih, hendaklah segera mencari sang kekasih, supaya hidup mereka lebih berarti dan berguna.
Namun demikian, tidak selamanya bahwa cinta itu dapat mengantarkan seseorang ke taman kebahagian dan kesenangan, melainkan ada juga cinta yang melemparkan si pemilik cinta ke jurang penderitaan dan kenistaan serta kesengsaraan. Sehingga banyak sekali di antara mereka yang bermain cinta itu berputus asa pada saat putus cinta, bahkan tidak sedikit di antara mereka yang mati bunuh diri, gantung diri, minum racun serangga dan lain sebagainya.
Di dalam kitab Hikayah Al-Alamiyyah diterangkan bahwa cinta itu ada empat macam, yaitu : Pertama,. cinta kepada Allah Azza Wa Jalla, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kedua, cinta kepada seorang isteri atau suami. Ketiga, cinta kepada anak keturunan, cucu, buyut dan seterusnya. Dan yang terakhir atau yang Keempat, ialah cinta kepada sanak saudara, sanak keluarga, kerabat, teman atau sahabat karib lainnya. (Saya pernah membaca kitab ini sekitar 4 tahun yang lalu di rumah seorang teman. Oleh karena itu bila ada kekeliruan di dalam menyebut judul atau nama kitab dan mengenai macam-macam cinta, saya minta maaf lahir dan bathin. Terima kasih.)
Cinta terhadap seorang isteri atau suami, akan dapat mendatangkan kebahagiaan baik lahiriyah maupun bathiniyah. Kebahagiaan lahiriyah, misalnya pada waktu berjalan bersama atau sedang duduk bersanding berduaan dan bersenda gurau di depan beranda rumah. Sedangkan kebahagiaan bathiniiyah ialah kebahagiaan ketika berada di tempat tidur, yaitu pada saat melakukan hubungan titik-titik. Di mana kebahagiaan ini adalah merupakan puncak dari segala kebahagiaan hidup di dunia. Namun, kebahagiaan dari seorang isteri atau suami ini hanya bersifat sementara yaitu pada saat ia masih hidup bersama dalam sebuah ikatan rumah tangga. Sedangkan bila salah satunya telah meninggal dunia atau bercerai misalnya, maka kebahagiaan yang pernah dialaminya itu seakan-akan tak pernah ada. Adapun cinta terhadap sanak saudara hanya akan memberikan kebahagiaan lahiriyah saja. Sehingga betatapun kita cinta dan sayangnya kepada mereka, mereka tidak mungkin dapat memberikan kebahagiaan bathiniyah sebagaimana kebahagiaan bathiniyyah yang diperoleh dari seorang isteri atau suami yang saling mencintai dan menyayangi. Begitu juga cinta terhadap anak keturunan, kerabat, sahabat atau pun teman dekat lainnya. Maka untuk memperoleh kebahagiaan lahiriyah dan bathiniyah yang kekal abadi adalah kita wajib beriman dan bertakwa serta cinta kepada Allah Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih, Pencipta alam semesta.
Dari sekelumit uraian tersebut dapat diketahui bahwa cinta yang dimiliki oleh seseorang akan dapat menghantarkan dirinya ke sebuah kehidupan yang penuh kebahagiaan baik lahiriyah maupun bathiniyah, baik yang bersifat sementara maupun yang bersifat kekal abadi. .Dan dapat pula dimengerti bahwa cinta memiliki peranan yang sangat penting dalam kelangsungan hidup manusia di muka bumi ini. Dengan bermodalkan cinta setulus hati, banyak sekali orang-orang yang dapat menjalin hubungan cinta sejati, dan terikat dalam sebuah ikatan mulia nan suci, yang disebut ikatan sebagai suami isteri, kemudian melahirkan anak keturunan yang banyak sekali, memenuhi alam dunia ini. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa cinta adalah merupakan kelangsungan hidup bagi manusia. Sebab, bila tanpa didasari dengan rasa cinta walau hanya sebesar biji sawi misalnya, niscaya manusia tidak akan mungkin mau bersedia untuk hidup bersama, berduaan, hidup seia sekata dalam mahligai rumah tangga. Sehingga, tak mungkin pula seorang perempuan dapat melahirkan seorang anak, bila dirinya tidak pernah melakukan hubungan titik-titik dengan seorang lelaki. Bila seorang wanita tidak melahirkan seorang anak pun jua, maka tentu dunia ini akan menjadi ruangan maha luas tapi hampa dan sepi karena tidak ada manusia. Dengan demikian, sekali lagi saya katakan bahwa cinta adalah merupakan kelangsungan hidup bagi ummat manusia.
Dan dengan rasa cinta yang dimilikinya, banyak sekali di antara saudara-saudara kita yang berjuang mempertaruhkan jiwa dan ragannya serta harta bendanya semata-mata demi membela agama, nusa dan bangsanya, sehingga lahirlah bunga-bunga bangsa yang disebut pahlawan nasional. Dengan demikian tidaklah berlebihan bila saya mengatakan bahwa cinta adalah merupakan sumber kekuatan dan perjuangan untuk memerangi kejahatan dan penjajahan di muka bumi ini, khususnya Negara Republik Indonesia yang kita cintai ini. Bila tidak ada seorang pun yang memiliki rasa cinta terhadap negera, agama, nusa dan bangsanya, niscaya kehidupan kita saat ini berada di bawah kaki-kaki penjajah yang tak berperikemanusiaan, yang kekejamannya sangat menyakitkan hati orang-orang yang tak berdosa. Tapi, dengan berkat perjuangan mereka, jadilah bangsa dan negara kita sebagai bangsa dan Negara yang merdeka. Dan kita pun dapat hidup tenteram, aman dan bahagia di dalamnya.
Serta dengan rasa cinta pula, tidak sedikit di antara saudara-saudara kita yang menyingsingkan lengan bajunya untuk mempelajari dan memperdalam berbagai macam cabang ilmu pengetahuan baik ilmu pengetahuan agama maupun ilmu pengetahuan umum, sehingga lahirlah lentera-lentera bangsa yang disebut ulama, kiyai, ustadz dan atau sarjana, guru, dosen dan sebagainya. Dari merekalah kita mengerti tentang huruf-huruf hijaiyah, huhurf-huruf abjad, a-i-u-e-o, dan dari mereka pula-lah kita dapat membedakan barang yang halal dari yang haram. Dan dapat pula membedakan yang baik dari yang buruk. Apabila tidak ada seorang pun yang mempelajari dan memperdalam ilmu pengetahuan, baik ilmu pengetahuan agama maupun ilmu pengetahuan uimum, niscaya hidup kita saat ini berada dalam kegelapan dan bergelimang dalam kesesatan penuh kenistaan. Dalam filsafat islam dikatakan bahwa apabila tanpa ilmu niscaya manusia itu seperti binatang. Dengan demikian, dapatlah kita katakan bahwa cinta adalah merupakan sumber ilmu pengetahuan.
Di samping itu, cinta juga dapat berguna sebagai obat yang paling mujarab bagi orang-orang yang masih hidup sendirian, karena belum punya pacar, alias masih ngejomblo, di mana hati mereka selalu diselimuti oleh rasa kesepian yang mendalam, rasa kebosanan hidup, jemu, kebekuan hati dan sebagainya Tapi, dengan bercinta hati mereka menjadi senang gembira. semangat hidup pun semakin menigkat, dan bekerja pun bertambah giat, karena selalu di dampingi oleh sang kekasih yang semakin hari bertambah lengket. Meskipun berjauhan misalnya, tetapi hati mereka tetaplah berdekatan karena adanya rasa cinta dan kasih sayang. Dengan demikian, dapatlah kita sebut bahwa cinta adalah sebagai obat kesepian., sebagai obat kejemuan, obat kebekuan, dan sebgai obat kebosanan hidup di alam dunia ini. Oleh karena itu, bagi mereka yang belum punya kekasih, hendaklah segera mencari sang kekasih, supaya hidup mereka lebih berarti dan berguna.
Namun demikian, tidak selamanya bahwa cinta itu dapat mengantarkan seseorang ke taman kebahagian dan kesenangan, melainkan ada juga cinta yang melemparkan si pemilik cinta ke jurang penderitaan dan kenistaan serta kesengsaraan. Sehingga banyak sekali di antara mereka yang bermain cinta itu berputus asa pada saat putus cinta, bahkan tidak sedikit di antara mereka yang mati bunuh diri, gantung diri, minum racun serangga dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, alangkah baiknya jika gadis-gadis dan pemuda-pemuda serta ibu-ibu rumah tangga maupun bapak-bapak yang sudah berkeluarga, mengetahui dan mengerti tentang cinta, makna cinta, dari mana ia (cinta) datang, dan bagaimana cara menghadapi permasalahan cinta, bagaimana pula caranya supaya dapat merasakan manisnya cinta, siapa yang lebih berhak untuk dicintai dan di sayangi. serta apa saja yang harus dihindari agar cinta yang telah bersemi itu tidak cepat layu, melainkan supaya tetap tumbuh dan berkembang hingga kita dapat menikmati manisnya cinta.. Dengan mengetahui hal-hal tersebut, Insya Allah, hati kita akan menjadi tenang, jiwa kita pun akan memiliki kekuatan ketika menghadapi kenyataan pahitnya cinta, sehingga kita tidak mudah mengkambing-hitamkan orang lain, apalagi menyalahkannya, dan terutama sekali tidak mudah putus asa. Karena sifat putus asa ini adalah termasuk salah satu sifat yang sangat dibenci oleh Sang Maha Pencipta.
Sebenarnya untuk menerangkan masalah cinta itu bukan hal yang mudah, melainkan sangat sulit. Karena, makhluk yang bernama cinta itu tidak pernah kelihatan, tidak kasat mata. Entah warnanya seperti apa, tidak ada yang tahu. Begitu juga bentuknya, apakah bulat, lonjong atau segitiga, tidak ada yang berani memastikan, termasuk saya sendiri. Oleh karena itu cinta tidak bisa direkayasa atau diproduksi, dan juga tidak bisa diperjual-belikan, kecuali oleh mereka yang mata duitan. Tetapi anehnya, semua orang pernah merasakan kehadirannya, bahkan mereka sangat senang sekali bila cinta mereka bersemi.
Dari kata “bersemi” inilah kita mulai berdiskusi tentang makhluk yang bernama cinta itu. Kata “bersemi” semakna dengan kata tumbuh, di mana kata “tumbuh” ini sebenarnya hanya berlaku untuk makhluk hidup, misalnya tanam-tanaman atau tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia, tapi dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah “bila cinta bersemi …”, dan sebagainya, yang berarti semua orang telah sepakat bahwa cinta itu seakan-akan termasuk makhluk hidup, meskipun sebenarnya tidak termasuk makhluk hidup. Oleh karena itu, mari kita analogikan makhluk yang bernama cinta ini dengan tumbuh-tumbuhan atau tanam-tanaman, supaya kita memperoleh sebuah gambaran tentang cinta, kemudian menjaga dan memeliharanya sepanjang hayat di kandung badan.
Untuk melengkapi peng-analogi-an, mari kita perhatikan pantun berikut ini :
Dari mana datangnya lintah,
dari sawah turun ke kali.
Dari mana datangnya cinta,
dari mata turun ke hati,
dan sebuah peribahasa : “Bila cinta sudah melekat, kotoran kuda terasa seperti coklat”.
Dari sini kita sudah memperoleh sebuah gambaran tentang asal-usul datangnya cinta, yaitu dari mata turun ke hati, kemudian diperjelas dengan sebuah peribahasa bahwa cinta itu melekat , yaitu melekat di dalam hati.
Analogi 1 : Cinta Yang Kita Miliki
Cinta = tanaman
Hati = media tanam/tanah
Kita = Petani
Hati = media tanam/tanah
Kita = Petani
Segumpal hati adalah laksana sebidang tanah, benih-benih cinta adalah laksana benih tanaman. Hadup dan matinya tanaman, tergantung pada tanah tempat ia di tanam. Bila tanahnya subur, maka tanamannya pun akan hidup subur pula. Bila tanahnya gersang, kering, tercemar, maka tanamannya pun akan hidup merana, lambat laun akan menjadi layu dan kemudian mati ditelan masa. Demikian pula benih-benih cinta yang berada di dalam hati kita. Bila hati kita lemah lembut, maka benih-benih cinta kita pun akan bersemi, tumbuh dan berkembang dengan subur, sehingga kita akan dapat merasakan segala sesuatunya menyenangkan hati sanubari. Sebaliknya, bila hati kita kasar, keras, kaku, maka cepat atau lambat rasa cinta yang kita miliki akan sirna sepanjang masa, sehingga segala sesuatunya, baik yang terlihat maupun yang terdengar, akan terasa menyesakkan dada, karena hati kita tak suka padanya. Na’udzu billahi min dzaalik.
Lantas, bila tanamannya mati, siapa yang harus bertanggung jawab dan siapa pula yang menderita kerugian? Jawabannya : Pak Tani. Bila cinta kita sirna, siapa yang harus bertanggung jawab dan siapa pula yang menanggung resiko? Jawabannya : Kita sendiri. Berarti, kita sama sekali tidak dibenarkan mengkambing-hitamkan orang lain, apalagi menyalahkannya. Hal ini penting sekali untuk dimengerti dan diketahui serta dipahami oleh setiap orang, karena segala sesuatu terlihat indah atau pun tidaknya, sangat bergantung pada pandangan mata kita sendiri, bukan berasal dari pandangan mata orang lain. Di mana dengan melihat sesuatu yang indah itulah, hati kita akan merasa senang dan gembira, terhibur karenanya. Bila yang kita lihat adalah seorang gadis cantik rupawan misalnya, maka hati kita pun akan menjadi terpikat, merasa senang dan gembira serta bahagia, sehingga kita tak bosan-bosan menatap dan memandang kecantikannya, bahkan sangat mungkin hati kita akan jatuh cinta setengah mati, dan merindukannya sepanjang hari, padahal kita belum tahu apakah dia itu cinta pada kita, atau mungkin sebaliknya, benci misalnya. Tapi mengapa hati kita jatuh cinta padanya? Karena di dalam hati kita telah tertanam benih-benih cinta yang kemudian bersemi pada saat pandangan mata kita melihat sesuatu yang menyenangkan hati. Perumpamaannya adalah seperti benih-benih tanaman yang telah tertanam kemudian bersemi pada saat musim hujan tiba.
Dengan demikian, dapatlah diketahui bahwa rasa cinta, rindu, kasih sayang dan sebagainya, yang kita rasakan, itu adalah berasal dan bermula dari hati sanubari kita sendiri. Sehingga kita tidak mungkin jatuh cinta pada seseorang bila di dalam hati kita tidak ada benih-benih cinta. Hal ini dapat kita ketahui dari seseorang yang sangat kita cintai dan kita rindukan, tetapi orang yang kita cintai itu sama sekali tidak mencintai diri kita, malah sangat benci pada kita. Mengapa? Karena di dalam hati orang yang kita cintai itu tidak ada benih-benih cinta untuk kita. Atau sebaliknya, ketika ada seseorang yang sangat mencintai dan menyangi diri kita, sementara kita sendiri sedikit pun tidak ada rasa cinta padanya. Maka apakah kita akan merindukan dia? Tentu tidak akan rindu sama sekali. Jadi, dicintai belum tentu menyenangkan hati, dibenci belum tentu menyakitkan hati, karena semuanya masih bergantung pada situasi dan kondisi.
(Bersambung ke : ANALOGI CINTA 2)
Langganan:
Postingan (Atom)
