Sabtu, 05 September 2009

Menatap 1000 Bulan

Allah Azza Wa Jalla berfirman : "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar". (QS. Al Qadar : 1-5) Malam kemuliaan dikenal dalam bahasa Indonesia dengan malam "Lailatul Qadar", yaitu suatu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan dan penuh kemuliaan, kebesaran, karena pada malam itu merupakan malam permulaan diturunkannya Kitab Suci Al-Qur'an, yaitu diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s. Al-Qur'an adalah Kitab Suci yang merupakan sumber utama dan pertama ajaran Islam, menjadi petunjuk kehidupan bagi segenap ummat manusia, sebagai salah satu rahmat yang tak ada taranya bagi alam semesta. Di dalamnya terhimpun Wahyu Ilahi yang menjadi petunjuk, pedoman dan pelajaran bagi siapa saja yang mempercayai serta mengamalkannya. Al-Qur'an adalah Kitab Suci yang terakhir diturunkan Allah Swt, yang kandungannya mencakup segala pokok-pokok syari'at yang terdapat dalam Kitab-kitab Suci yang diturunkan sebelumnya. Oleh karena itu setiap orang yang mempercayai Al-Qur'an, akan bertambah cinta kepadanya, cinta untuk membacanya, cinta untuk mempelajari dan memahaminya serta cinta pula untuk mengamalkan dan mengajarkannya sampai merata rahmatnya dirasai dan dikecap oleh penghuni alam semesta.

Dalam rangka menyambut malam "Nuzulul Qur'an" dan (malam) "Lailatul Qadar" di bulan Ramadhan tahun 1430 H. inilah, maka patut kita renungkan pemikiran dan uraian seorang filosof muslim, Dr. Damardjati Supajar, dalam buku Filsafat Islam,di bawah judul Sosok Perspektif Filsafat Islam Tinjauan Aksiologis, hal. 49 s/d 52, yaitu sebagai berikut :

"The creation ... is not an event which happened in the remote past but is rather a living reality of the present. Creation is a process of evolution of which man is not merely a witness but a participant and a partner as well. (Theodosius Dobzhansky)

Pada tanggal 29-9-1991, ketika jaringan TV Jepang dan TVRI (Pusat) bersama-sama mengangkat masalah kemisterian Borobudur dalam satu paket film dokumenter berjudul The Mystery of Borobudur, terjadilah diskusi yang menarik mengenai patung "unfinished Buddha", justru bukan karena pembuatannya yang belum selesai, melainkan disengaja demikian untuk menyatakan sesuatu yang "belum selesai", artinya masih dalam proses. Ungkapan demikian itu mengingatkan kita kepada suatu buku yang berjudul The Unfinished Universe, karya Louise B.Young. Kata-kata Dobzhansky yang dikutip di atas adalah pembuka kata pengantar pada buku tersebut (Young, L.B. 1987, h. 9).

Kalau setiap kali kita menatap Borobudur dan menangkap "pesan" perihal 1000 ksatria yang terkurung dalam sangkar, dan lalu memahaminya dalam kerangka "pesan" sebelumnya - yaitu ketika 1000 patung atau candi persembahan Bandung Bondowoso untuk Pradnyaparamita, yang ternyata belum terselesaikan dalam waktu satu malam - kiranya adalah tidak arif kalau pemahaman kita itu tidak menyentuh dataran aksiologis. Kebekuan membatu dan mematungnya candi-candi di Prambanan serta keterkurungan ksatria-ksatria di dalam sangkar, bisa jadi terjadi pada diri kita dalam kaitan rasional dengan serba percepatan kehidupan modern kini, lebih-lebih nanti. Permasalahan aksiologisnya ialah, bagaimana "rahasia" membuat hidup patung 1000 dan membebaskan ksatria 1000? Itulah tugas kita, mission kita, agar kita tidak lagi "mematung" dan "terkurung" dalam kegelapan. Rahasianya adalah "menatap 1000 bulan", mengalami terang benderang makna dan maksud kejadian seperti menatap 1000 bulan purnama yang kejelasannya mencakup satuan waktu 1000 bulan, yaitu kira-kira 82 tahun. Itulah makna orientasi atau njangka "nawang wulan". Adapun lakunya, jangkahnya, langkahnya, ialah Hanyokrokusumo, mengembangkan kwalitas bunga yang berkembang atas bimbingan cahaya bulan.

Apakah yang terang benderangnya tak diragukan lagi untuk masa 1000 bulan? Kematian, kalau kita ingat bahwa peristiwa terang benderang ke-qur'an-ian itu dialami Nabi Muahmmad Saw., ketika beliau berusia 40 tahun. Dalam hubungannya dengan kematian, kita berpegang pada ayat :"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS. Ali Imran : 102). Jika demikian, kita lalu sadar bahwa bukannya kematian untuk kematian, melainkan kematian untuk kesaksian (syahadat), karena Islam itu berdiri di atas landasan syahadat. Demikian pula pergelaran alam raya ini, adalah verifikasi syahadat dengan bahasa objektif. Kalau nanti alam ini sudah digulung dan yang ada hanya tinggal wajah Allah, maka pernyataan kebenarannya tetap sama, yaitu Laa Ilaaha Illal-Laah, oleh Allah sendiri, Maaliki Yaumid-Dien. Itulah norma senormal-normal normatif,yang apabila diukur secara intelektual menunjuk kepada angka 100, justru karena rumus kecerdasan itu adalah IQ = MA/CA x 100%. MA (Mental Age) yang paling tinggi syahadat; CA (Chronological Age) terbesar atau terpanjang adalah bentangan penciptaan usia alam semesta ini. Maka kalau kita berhasil bersaksi sebenar-benar kesaksian - secara justifikatif - dalam tenggang waktu yang jauh lebih pendek atau singkat dari pada umur alam, maka kiranya kita menjadi sosok yang cerdas, sebab MA-nya tetap sedang CA-nya mengecil, yaitu sepanjang hayat kita. Dengan demikian, jelaslah kiranya bahwa pegangan hidup bagi mereka yang pada saat sakaratul maut-nya berpegang pada syahadat, akan dijamin masuk syurga.

Jadi sebaik-baik pengakuan, ialah pengakuan yang benar. Sebenar-benar pengakuan ialah syahadat. Seindah-indah syahadat ialah syahadat Allah, oleh-Nya, untuk-Nya. Kewajiban memohon ampun berlaku bagi kesalahan pengakuan; kewajiban melakukan koreksi, bagi kesalahan perbuatan.

Sekali lagi, setinggi-tinggi nilai ialah syahadat, setinggi-tinggi syahadat itu syahadat dari Allah, oleh-Nya, untuk-Nya, Maaliki Yaumid-Dien. Itulah setepat-tepat posisi Dien, sehingga jelaslah bahwa Innad-Diina 'Indallaahil-Islaam. Rahasia "waktu" lebih rumit dari pada rahasia "alam". Pengakuan itu menuntut koherensi/konsistensi sepanjang acuan temporal, pembuktian itu menuntut korespondensi struktural/ fungsional, sedemikian rupa sehingga jelaslah pola parsialitas dan integralitasnya suatu peran, mana peran pelengkap penderita, pelengkap penyerta, pelengkap pelaku, subjek pelaku. Untuk itulah perlunya suatu telaah tentang fakta, faktor, fungsi, peran dan misi.

Alam ini adalah pergelaran tahmid, "Al-hamdulil-laahi rabbil'aalamiin". Yang demikian itu berlaku secara universal, sepanjang masa, sepanjang waktu secara objektif. Dari alam-lah kita mempelajari kualitas perbuatan yang terpuji, dan melakukan koreksi apabila kita berbuat salah. Celupan alami itu meyakinkan, akan tetapi lambat dan memerlukan pengulangan demi pengulangan. Adapun Muhammad Abduhu itu adalah subjektifikasi dari tahmid alam tadi. Itulah makna kelahiran Muhammad yang identik dengan alam semesta ini. Adapun kebatinan Muhammad adalah Muhammad Rasulul-Laah Saw., yang identik dengan Nur Muhammad, pancaran wajah Allah, Nurun Alaa Nuur.

Itulah risalah islami universal dan eternal, awal-akhir, lahir bathin. Dimensi temporal - awal-akhir - dan dimensi spasial - lahir-bathin - terpadu berkat Rahman dan Rahim-Nya, yaitu manakala seseorang benar-benar memahami perannya sebagai Abdullah. Terhadap semesta kelahiran, hakekat ke-Abdul-Lah-an itu justru memerankan peran ketuhanan, terhadap semesta kebatinan, hakekat ke-Abdul-Laah-an itu justru merupakan ujung mata pedang kesaksian syahadat-Nya, Laa-Ilaaha-Illal-Laah. Momentum seperti itu oleh Iqbal, dihayati sebagai Eternal Now".

Sabtu, 15 Agustus 2009

Dokter THT 3

Dalam filsafat Aksiologi disebutkan bahwa salah satu syarat utama untuk bisa “jejer” adalah “jujur”, karena hanya dengan ke-jujur-an itulah sebuah ikatan atau hubungan akan terjalin erat dan harmonis serta langgeng. Terjalin erat, karena saling pengertian. Harmonis, karena saling harga menghargai dan saling hormat menghormati. Langgeng, karena saling memelihara segala sesuatu yang membawa kemasalahatan bagi keduanya, dan saling menghindari dari segala hal yang menyebabkan retaknya sebuah ikatan, hubungan atau jalinan. Sehingga bilamana ada salah satu pihak yang tidak memiliki sifat “jujur”, maka “jejer” tidak mungkin akan terwujud, kecuali sementara. Bila dipaksakan, maka dapat dipastikan akan timbul banyak masalah, bahkan tidaklah mustahil bila di kemudian hari akan menimbulkan banyak kerugian dan kehancuran di kedua belah pihak, baik moral maupun materiil. Oleh karena itu, hendaklah sifat "jujur" ini dijunjung tinggi, dan di tanamkan ke lubuk hati kita masing-masing, supaya kita dapat bergaul, bersahabat atau berteman dengan erat, harmonis dan langgeng, saling hormat menghormati, harga menghargai, baik di dalam lingkungan keluarga, masyarakat maupun dalam berbangsa dan bernegera.

Dan hendaklah diketahui dan dipahami bahwa kata “jujur” di sini bukan hanya sekedar bertutur kata apa adanya, melainkan lebih dari itu, karena kata tersebut mengandung makna yang sangat luas dan oleh karenanya harus dipahami secara luas pula. Di antaranya adalah jujur menilai diri sendiri dan jujur pula dalam menilai orang lain. Dengan kejujuran dalam menilai diri sendiri, maka kita akan menyadari dan mengetahui segala kekurangan dan kelebihan, kelemahan dan kekuatan yang ada pada diri kita. Demikian pula ketika kita menilai orang lain, bilamana kita menilainya secara jujur, maka tentulah kita pun akan mengetahui kelebihan dan kekurangan, kekuatan dan kelemahan yang mereka miliki.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan, sebagai pengantar berkenaan dengan kejujuran Ki Bandos dalam memberikan penilaian terhadap surat kekasihnya, Yayah Holiyah, sebagaimana secara khusus sudah saya jelaskan dalam sebuah artikel dengan judul “Surat Yayah Holiyah”, padahal yang sebenarnya Ki Bandos sendiri sedang ngambek pada kekasihnya itu, karena Yayah Holiyah pernah memanggil dirinya dengan panggilan : “Hai .., budeg …!”, sebuah panggilan yang sangat tidak disukai oleh Ki Bandos, karena dianggap sebagai penghinaan terhadap dirinya. Maklum, Ki Bandos adalah seorang pemuda santri yang serba miskin, miskin ilmu, miskin harta dan miskin rupa, sehingga mudah sekali tersinggung. Adapun kelebihan yang terdapat pada diri Ki Bandos adalah bahwa dia dapat memahami apapun yang diucapkan oleh Yayah Holiyah, sehingga Yayah Holiyah sangat mencintai dan menyayanginya. Untuk selanjutnya mari kita dengarkan dan kita simak kisahnya berikut ini. Silahkan Ki Bandos …!

Yaa ..., Terimkasih Om Syekh …!
Tidak ada kebahagiaan yang dapat dirasakan oleh setiap orang yang sedang memadu asmara, selain kebahagiaan pada saat membaca surat cinta dari seorang kekasih yang tercinta dan tersayang. Sehingga dalam bahasa bercinta seringkali terdengar kata-kata atau ucapan "ku-eja huruf demi huruf", "ku-baca kata demi kata", dan "ku-resapi kalimat demi kalimat", dst. Semua itu terjadi karena terlalu gembira dan senang membaca surat seorang kekasih. Demikian pula dengan diriku, aku sangat bahagia, tidak ada duanya, sehingga kebahagiaan hatiku itu tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Apalagi isi suratnya juga sempat bikin pusing kepalaku, pusing tujuh keliling, karena sulit dimengerti, aku betul-betul harus berpikir extra hati-hati, dengan mengeluarkan segala kemampuanku supaya bisa memahami isi surat Yayah Holiyah tersebut. Namun, setelah aku dapat memahami isi kandungannya, ternyata asyik juga, hatikupun bahagia sekali, bahkan aku ingin segera bertemu dengan Yayah Holiyah untuk melepas rasa rindu, setelah lama tidak bertemu, karena lebih dari satu minggu aku berpisah dengannya, gara-gara ucapannya yang menyinggung perasaan hatiku, dimana dia pernah memanggil diriku dengan ucapan "hai budeg ...!", yaitu pada saat menyaksikan acara ulang tahun Angkatan Bersenjata Republik Indonesia di kota Cilegon Serang Banten. (Angkatakan Bersenjata Republik Indonesia = ABRI, sekarang diganti TNI).

Surat Yayah Holiyah berbeda dengan surat-surat yang ditulis oleh orang lain pada umumnya. Perbedaan itu terletak pada format suratnya. Jika aku menulis surat maka yang pertama kusebut adalah nama orang yang dituju misalnya, "Kepada Yth : Yayah Holiyah di Tempat", atau "Untuk kekasihku Yayah Holiyah di Tempat", kemudian salam "Assalamu'alaikum Wr. Wb. .." atau "Dengan Hormat", dan sebagainya. Tetapi bagi Yayah Holiyah tidaklah demikian. Dia mengucapkan salam terlebih dahulu kemudian berkata : “Dari Yayah Holiyah, untuk kekasih Yayah Holiyah”.

Itulah awal kata dari surat Yayah Holiyah yang diberikan kepadaku. Aku merasa bahwa surat ini adalah merupakan sebuah surat yang luar biasa dan mengandung makna yang sangat dalam serta sangat mengesankan bagi diriku, karena selama aku berpacaran, baru kali ini membaca surat yang dimulai dengan menyebut nama pengirimnya. Selain itu, surat ini adalah merupakan surat pertama yang kuterima semenjak Aku menjalin hubungan cinta dengan Yayah Holiyah. Sehingga ketika aku membaca kalimat “Dari Yayah Holiyah …”, terbayanglah di dalam pikiranku seakan-akan dia berada di depan mata, duduk bersanding di sisiku dan mengajak diriku untuk berbicara dari hati ke hati, dan seakan-akan dia berkata : “Bila AA masih bersedia mendengarkan ucapan Yayah, silahkah surat ini dibaca sampai selesai, sebaliknya jika AA tidak berkenan, maka cukuplah sampai di sini … dan silahkan surat ini ditutup kembali …!”, tanpa terasa hatikupun berkata “Masya Allah …”, sebagai ungkapan kekagumanku terhadap kepiawian Yayah Holiyah di dalam menarik perhatian hatiku. Apalagi di dalam kalimat itu juga ditegaskan bahwa orang yang diajak bicara adalah diriku sebagai kekasihnya, dengan mengatakan “ …. untuk kekasih Yayah Holiayh”, maka ketika aku sedang memperhatikan kalimat itu akupun berkata di dalam hati “Masya Allah …, masya Allah …, sungguh dia adalah seorang gadis yang memiliki pengertian yang sangat dalam”.

Aku berkata demikian karena setelah kuperhatikan dengan seksama ternyata kalimat tersebut terdiri atas tujuh kata. Di mana bilangan angka tujuh (7) ini mengandung banyak makna, sehingga akupun tidak bisa memastikan makna mana yang dimaksudkan oleh Yayah Holiyyah, aku sama sekali tidak mengerti dan tidak tahu, kecuali hanya mengira-ngira, menerka-nerka dan membuat catatan untuk dapat mengetahui secara pasti terhadap apa yang diisyaratkan oleh Yayah Holiyah dalam perkataannya itu. Namun, sia-sia belaka karena Aku sama sekali tidak bisa menemukan makna yang sebenarnya atau tidak bisa mengambil kesimpulan apa-apa. Dari beberapa catatanku itu terdapat banyak kemungkinan, yaitu : Tujuh bacaan yang dibaca berulang-ulang pada waktu menunaikan ibadah sembahyang, yaitu surat Al-Faatihah. Tujuh ayat, yaitu ayat-ayat dalam surat Al-Fatihah. Tujuh surat yang terpanjang dalam al-Quran yaitu, surat Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisa, Al Maidah, Al-An’am, Al-A’raf, At-Taubah. Tujuh macam bacaan al-qur’an, yang disebut qira’at sab’ah. Tujuh huruf (bahasa) al-Qur’an. Tujuh lapis bumi dan Tujuh lapis langit. Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesunguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. (Qs. Ath-Thalaq: 12). Tujuh macam syurga, yaitu Jannatul Firdaus, Jannatun Na’iim, Jannatul Ma-wa, dll. Tujuh macam neraka, yaitu: neraka Jahannam, neraka Jahim, neraka Khuthomah, neraka Lazho, neraka Hawiyah, neraka Sa’ir, dan neraka Saqar. Tujuh pintu syurga (laha sab’atu abwab). Tujuh pintu neraka (laha sab’atu abwab). Tujuh anggota tubuh manusia, yaitu dua belah kaki, dua belah tangan, dua belah lutut, dan satu wajah atau muka. Dua belah kaki untuk berhidmah kepada Allah, dua belah tangan untuk berdo’a kepada-Nya, dua belah lutut untuk duduk dalam sholat, satu wajah untuk bersujud kepada-Nya. Tujuh masa kehidupan manusia, yaitu ar-Radlii' (masa menyusu), Fathim (masa disapih), Al-Ghulam (masa kanak-kanak), Ash-Shabiy (masa remaja), Syabun (masa muda), Kahlun (masa dewasa) dan Syaikhun (masa tua). Tujuh kata/kalimat dalam kalimat thoyyibh, yaitu : Laa Ilaaha Illa Allaah Muhammadur-Rasul Allah (Tidak ada Tuhan selain Allah, Nabi Muhammad adalah utusan Allah). Tujuh Nabi dan Rasul Allah yang paling mulia. Tujuh hari dalam satu minggu, yaitu Sabtu, Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis dan Jum’at. Tujuh masa penciptaan langit dan bumi, Tujuh macam lubang pada manusia, yaitu dua lubang telinga, dua lubang hidung, satu lubang mulut, satu lubang depan dan satu lubang belakang. Tujuh lautan, sab’atu abhurin : "Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (Qs. Luqman: 27). Tujuh macam bulu/rambut manusia, yaitu rambut kepala, kumis, jenggot, bulu alis, bulu mata, bulu ketek, dan bulu itu tuh ....., di mana bulu-bulu tersebut masing-masing memiliki fungsi tersendiri. Tujuh bulir atau tujuh tangkai, yang disebut sab’a sanaabil, sebagai perumpamaan pahala yang akan diterima oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya pada jalan Allah, di mana mereka akan memperoleh pahala berlipat ganda. Tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk di makan oleh Tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus, Tujuh bulir gandum yang hijau dan Tujuh bulir gamdum yang kering, sebagaimana yang dilihat dalam mimpi oleh seorang Raja Mesir. Tujuh tahun masa panen/subur yang terjadi pada jaman Nabi Yusuf a.s. Tujuh tahun masa kemarau panjang/paceklik juga yang pernah terjadi pada jaman Nabi Yusuf a.s. Tujuh orang pemuda beriman ash-Habul Kahfi, yang ditidurkan oleh Allah di dalam gua selama 309 tahun. Tujuh peristiwa besar yang akan terjadi pada hari kiamat. Tujuh macam hewan atau binatang bersejarah, yaitu : Burung Merpati yang pernah disembelih oleh Nabi Ibrahim a.s. kemudian atas kekuasaan Allah, burung tersebut hidup kembali; Burung Hud-hud yang menjadi juru pengantar surat Nabi Sulaiman kepada Ratu Bilqis; Laba-laba penganyam sarang di depan pintu Gua Tsur pada saat Nabi Saw. dan Abu Bakar Shiddiq r.a. berada di dalamnya; Himar teman setia hamba Allah yang bernama Uzeir; Semut, yang pernah terdengar percakapannya oleh Nabi Sulaiman; Qithmir penjaga pintu gua Ash-Habul Kahfi; dan Rayap yang memakan tongkat Nabi Sulaiman a.s. (Bersambung)

Rabu, 12 Agustus 2009

Surat Yayah Holiyah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Dari Yayah Holiyah untuk kekasih Yayah Holiyah.

Tiada ucapan yang lebih baik diucapkan selain ucapan mohon maaf. Oleh karena itu, dengan setulus hati Yayah mohon maaf pada AA atas segala kesalahan dan kehilafan Yayah. Dan tiada harapan yang lebih menyenangkan hati selain harapan ketulusan AA untuk mendengarkan suara hati Yayah, yang hendak Yayah ungkapkan lewat buah pena Yayah berikut ini :

Sebutir biji rambutan, akan tumbuh sebatang pohon rambutan.
Sebutir biji durian, akan tumbuh sebatang pohon durian.
Sehingga tidak mungkin dari biji rambutan tumbuh sebatang pohon durian,
dan tidak mungkin pula dari biji durian tumbuh sebatang pohon rambutan.

Hati yang baik, akan mengeluarkan perkataan yang baik.
Hati yang tidak baik, akan mengeluarkan perkataan yang tidak baik.
Sehingga tidak mungkin hati yang baik,
mengeluarkan perkataan yang tidak baik,
dan tidak mungkin pula hati yang tidak baik,
mengeluarkan perkataan yang baik.

Jika hati yang tidak baik mengeluarkan perkataan yang baik,
maka nilainya tidak sama dengan perkataan yang baik,
yang keluar dari hati yang baik.
meskipun kalimat yang diucapkannya sama-sama baik

Apabila hati yang baik mengeluarkan perkataan yang tidak baik,
maka hal yang demikian itu adalah karena keterpaksaan,
sedangkan hati yang tidak baik bila mengucapkan perkataan yang tidak baik
maka hal yang demikian itu adalah karena keterbiasaan.

Perkataan yang baik yang keluar dari hati yang tidak baik
adalah membahayakan
Perkataan yang tidak baik yang keluar dari hati yang baik
adalah menyelamatkan

Kekasih Yayah ...  yang tersayang …!
(Bersambung)

Yayah Holiyah adalah seorang gadis cantik manis rupawan tetapi tidak pernah membangga-banggakan kecantikannya. Karena menurut pandangan Yayah Holiyah, bahwa kecantikan seseorang itu bukanlah untuk dibangga-banggakan melainkan untuk di syukuri. Dia adalah anak seorang bangsawan yang terpandang, tetapi kebangsawanannya tidak membuatnya lupa dan menyombongkan diri, karena menurut keyakinannya, bahwa harta dan kekayaan tidak akan berarti sama sekali bila tidak punya hati. Oleh karena itu, dia senantiasa menjaga lisan maupun tulisan dari perkataan-perkataan yang dianggap dapat menodai kesucian hatinya. Seperti kalimat “hati yang jahat, hati yang kasar, hati yang buruk, hati yang dengki, munafik” dan sebagainya. Sebagai gantinya dia menggunakan kalimat: “hati yang tidak baik” . dimana maknanya mencakup hati yang jahat, hati yang kasar, hati yang buruk, dan semua kalimat yang searti dengan itu. Yayah Holiyah tidak menggunakan kalimat-kalimat tersebut, khususnya dalam suratnya yang ditujukan kepada Ki Bandos, karena dianggap dapat menodai kesucian hatinya yang senantiasa terjaga dan terpelihara semenjak masa kanak-kanak hingga usia remaja berkat didikan dan bimbingan kedua orang tuanya.

Yayah Holiyah memiliki pandangan hidup bahwa baik buruknya suatu perbuatan maupun ucapan tergantung pada hatinya. Bila hatinya baik, maka perbuatan dan ucapannya pun akan baik pula, sebaliknya bila hatinya tidak baik maka segala tingkah laku dan perkataannya tidak baik pula. Sehingga, dalam pergaulan sehari-hari misalnya, dia sangat hati-hati dalam bertutur kata. Bila ada temannya yang mengucapkan kata-kata yang menyinggung perasaan atau menyakitkan hatinya, maka selalu di balas dengan sebuah kiasan dimana yang apabila dicerna justru akan menambah wawasan bagi orang yang dimaksud dengan perkataannya itu, misalnya "alangkah indahnya bila sang surya tersembunyi di balik awan yang megah". Dengan perkataannya ini, Yayah Holiyah bermaksud memberitahukan kepada temannya bahwa ucapannya sangat menyakitkan hatinya sebagaimana sengatan teriknya matahari di siang hari. Bila temannya tidak melakukan perubahan, melainkan tetap menghina secara berlebihan, maka kiasan tersebut akan diucapkan dengan mengganti kalimat "di balik awan yang megah" menjadi "di balik awan yang hitam kelam", sehingga berbunyi "alangkah indahnya bila sang surya tersembunyi di balik awan yang hitam kelam ", sebagai peringatan keras terhadap sikap temannya itu, di mana kalimat "awan yang hitam kelam" mengandung arti "hati yang hitam pekat".

Dan seperti kalimat “perkataan yang tidak baik”, maka yang dimaksud oleh Yayah Holiyah adalah semua perkataan yang dapat menyinggung perasaan hati orang lain. Misalnya perkataan yang mengandung unsur penghinaan, pelecehan, merendahkan derajat orang lain, merusak kehormatan dan nama baik seseorang, dan atau seperti kata-kata: anjing, kurang ajar, bohong, munafik, bodoh, dungu, penipu, jahat, dll. Kata-kata yang seperti ini selalu dihindari (tidak diucapkan) oleh Yayah Holiyah dalam pergaulannya sehari-hari baik di luar rumah maupun ketika berada di dalam rumah, karena menurut pandangan Yayah Holiyah bahwa kata-kata tersebut tidak sepantasnya diucapkan oleh orang-orang yang memiliki hati yang mulia.

Menurut pandangan Yayah Holiyah bahwa baik tidaknya sebuah perkataan tergantung pada hatinya, bukan pada kalimatnya. Sehingga, meskipun kalimatnya sama persis, tapi kalau hatinya berbeda yaitu hati yang baik dan hati yang tidak baik, maka nilainya tetap berbeda. Oleh karena itulah dia berkata kepada Ki Bandos : "Apabila hati yang tidak baik mengeluarkan perkataan yang baik, maka nilainya tidak sama dengan perkataan yang baik yang keluar dari hati yang baik, meskipun kalimat yang diucapkannya sama-sama baik". Misalnya kalimat "Allahu Akbar". Bila kalimat ini diucapkan oleh orang-orang yang beriman, maka dapat dipastikan mengandung nilai ibadah, sedangkan bila diucapkan oleh orang-orang yang munafik, maka dapat dipastikan tidak mengandung nilai ibadah, karena tidak berpahala, akibat kemunafikan atau kekafirannya.

Kemudian yang dimaksud dengan “Perkataan yang baik yang keluar dari hati yang tidak baik adalah membahayakan”, yaitu perkataan manis yang diucapkan, misalnya, oleh seorang penipu. Sedangkan yang dimaksud dengan “Perkataan yang tidak baik yang keluar dari hati yang baik adalah menyelamatkan”, ysitu misalnya perkataan seorang guru terhadap seorang siswa yang tidak mentaati tata tertib sekolah. Di mana betatapun pahitnya perkataan guru tersebut bilamana diindahkan tentulah sangat bermanfaat dan sangat berguna bagi siswa, misalnya tidak dikeluarkan dari sekolah, sehingga ia dapat melanjtukan belajar sampai tamat belajar, yang berarti menyelamatkan masa depan dirinya (siswa) sendiri.

Surat Yayah Holiyah sebagaimana tersebut di atas adalah merupakan surat pertama yang diberikan kepada Ki Bandos, yang dijadikan sebagai dasar pengakuan atas kesalahan dirinya sendiri terhadap Ki Bandos yang pernah dilakukannya pada tanggal 5 Oktober 1981 di Kota Cilegon Serang Banten. Dengan kata lain bukan untuk membela diri atau untuk membenarkan apa yang telah diucapkannnya. Karena, Yayah Holyah berpedoman bahwa mengakui kesalahan yang memiliki dasar adalah lebih baik daripada mengaku benar tapi tanpa dasar.Adapun kalimat atau bait yang dijadikan dasar pengakuan atas kesalahannya adalah :

Sebutir biji rambutan, akan tumbuh sebatang pohon rambutan.
Sebutir biji durian, akan tumbuh sebatang pohon durian.
Sehingga tidak mungkin dari biji rambutan tumbu sebatang pohon durian,
dan tidak mungkin pula dari biji durian tumbuh sebatang pohon rambutan.

Kalimat-kalimat tersebut dipahami oleh Yayah Holiyah bahwa jika ada dari biji rambutan tumbuh sebatang pohon durian atau dari biji durian tumbuh sebatang pohon rambutan, maka di situ dapat dipastikan telah terjadi sebuah rekayasa. Setiap rekayasa adalah mengandung unsur penipuan. Setiap penipuan sekecil apapun pasti salah. Kesalahan sekecil apapun harus diakui dan disadari. Bila tidak diakui akan beraibat tidak baik bagi diri sendiri. Oleh karena itulah Yayah Holiyah mengaku bersalah terhadap Ki Bandos dan minta maaf lahir bathin.

Untuk selanjutnya, Yayah Holiyah mengingatkan pada Ki Bandos supaya menilai tentang dirinya secara proposional, objektif, apa adanya, apakah dirinya termasuk seorang gadis yang berhati baik atau mungkinkah  justeru sebaliknya, dan apakah perkataan yang pernah diucapkannya itu dilakukan karena terpaksa atau memang sudah menjadi kebiasaan bagi dirinya? Oleh karena itulah ia berkata :

Apabila hati yang baik mengeluarkan perkataan yang tidak baik
maka hal yang demikian itu adalah karena keterpaksaan
sedangkan hati yang tidak baik bila mengucapkan perkataan yang tidak baik
maka hal yang demikian itu adalah karena keterbiasaan

Jika Ki Bandos menilai dirinya termasuk seorang gadis yang berhati baik dan apa yang dilakukan atau yang pernah diucapkannya adalah karena terpaksa misalnya, maka Yayah Holiyah pun mengingatkan pada Ki Bandos bahwa permintaan maaf pada dirinya itu bukan atas dasar karena keterpaksaan dalam melakukan suatu perbuatan atau ucapan, melainkan karena atas dasar kesadaran bahwa dirinya telah melakukan pelanggaran terhadap perinsip-perinsip hidupnya yang telah ditanamkan oleh kedua orang tuanya. Hal ini diungkapkan dalam suratnya yaitu pada bait sebagai berikut :

Hati yang baik, akan mengeluarkan perktaan yang baik.
Hati yang tidak baik, akan mengeluarkan perkataan yang tidak baik.
Sehingga tidak mungkin hati yang baik ,
mengeluarkan perkataan yang tidak baik,
dan tidak mungkin pula hati yang tidak baik, 
mengeluarkan perkataan yang baik

Mengapa demikian? (Bersambung)

Senin, 10 Agustus 2009

ANALOGI CINTA 2

Kemudian, mengapa saya mengatakan bahwa kita sama sekali tidak dibenarkan mengkambing-hitamkan orang lain, apalagi menyalahkannya? Karena, segala sesuatunya bersumber dari hati sanubari dan diri kita sendiri. Pada saat dicinta misalya, hati kita akan merasakan bahagia bilamana di dalam hati kita ada rasa cinta. Sebaliknya, jika tidak ada rasa cinta, maka meskipun seribu orang mencintai dan meyayangi diri kita, hati kita tidak akan merasakan kebahagian apa pun juga. Itulah yang dimaksud dengan segala sesuatuya bersumber dari hati sanubari dan diri kita sendiri. Hal ini dapat diumpamakan segelas air madu dengan lidah kita. Bila lidah kita dalam keadaan normal, tentulah akan terasa manis dan lezat, tetapi kalau lidah kita dalam keadaan tidak normal (abnormal), maka dipastikan tidak akan dapat merasakan manisnya madu tersebut. Nah, kalau dalam kenyataannya lidah kita sendiri yang abnormal, mengapa kita harus menyalahkan orang lain? Lantas, bagaimana kalau gelas tadi berisi racun atau ampedu misalnya? Dari sini pun dapat dimengerti bahwa yang dapat merasakan atau mengetahui isi gelas itu adalah racun atau ampedu, hanyalah lidah yang normal, sedangkan lidah yang abnormal tidak akan dapat merasakannya sebagaimana ketika ia (lidah) mencicipi air madu. Dengan demikian lidah yang normal adalah lebih baik dari pada lidah abnormal. Maksudnya, lebih baik memiliki rasa cinta, meskipun tidak ada seorang pun yang mencintai diri kita, dari pada banyak orang yang mencintai diri kita, tetapi di dalam hati kita tidak ada rasa cinta. Sebab, hati yang tidak memiliki rasa cinta adalah kematian, sedangkan hati yang memiliki rasa cinta adalah kehidupan. Kehidupan adalah lebih baik daripada kematian.

Memang, menyalahkan diri sendiri adalah termasuk pekerjaan yang sangat sulit dan maha berat, tidak mudah dilakukan. Penulis pribadi selama puluhan tahun sampai sekarang belum bisa melakukan hal itu. Sedangkan mengkambing-hitamkan dan menyalahkan orang lain, teman, pacar, suami, isteri misalnya, adalah termasuk pekerjaan yang paling mudah dan gampang, kapan saja bisa kita lakukan. Namun, hendaklah diingat, bahwa perbuatan menyalahkan orang lain itu adalah termasuk perbuatan yang sangat merugikan diri kita sendiri di samping dapat menyakiti hati orang lain. Pertama, kita tidak akan pernah mengerti tentang kesalahan, kelemahan dan kekurangan diri kita, karena orang yang menyalahkan orang lain itu biasanya menganggap dirinya paling benar, lebih baik dan sebagainya, sehingga diri kita pun akan menghadapi kesulitan di dalam melakukan perbaikan dan meningkatan kwalitas hidup yang lebih bermanfaat dan berguna baik bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lian. Kedua, secara tidak langusng mengajari orang lain membenci diri kita. Kalau hanya membeci diri kita itu mendingan, tapi bahayanya kalau dia sampai membenci orang lain yang tak bersalah, tentulah akan berakibat lebih berat. Ketiga, dapat menyebabkan sirnanya benih-benih cinta yang kita miliki, karena menyalahkan seseorang itu biasanya didorong oleh rasa tidak suka (benci). Sifat benci dan sifat cinta adalah dua sifat yang berlawanan, yang tidak mungkin dapat bertemu dalam satu waktu dan tempat, perumpamaanya seperti siang dan malam. Dengan demikian tanpa di sadari kita telah menanamkan bibit-bibit kebencian ke dalam hati kita sendiri. Keempat, akan menimbulkan berbagai macam penyakit hati, seperti hasud, takabbur, riya, dan suka mencari-cari kesalahan orang lain. Kelima, kita tidak akan dapat merasakan manisnya cinta, karena hati kita sudah dipenuhi rasa kebencian. Keenam, hidup kita akan selalu diselimuti oleh rasa resah dan gelisah, tidak ada ketentraman hati, karena orang yang kita persalahkan cepat atau lambat akan melakukan pembalasan kepada kita baik berupa perbuatan maupun perkataan, Ketujuh, dapat mengikis habis sifat jujur yang ada pada diri kita, yaitu jujur dalam menilai diri sendiri dan jujur dalam menilai orang lain, padahal sifat jujur ini adalah merupakan salah satu syarat utama untuk bisa jejer, yaitu terjalinnya hubungan yang harmonis antara yang satu dengan yang lainnya, baik dalam kehidupan berumah tangga, bermasyarakat maupun berbangsa dan bernegara.

Itulah di antara akibat yang akan kita terima/derita bilamana kita sering kali menyalahkan orang lain. na'udzu billaahi min dzaalik.  Maka salah satu cara  supaya kita tidak mudah menyalahkan orang lain, ialah  hendaklah kita berpegang/berpedoman pada dua kata, yaitu PLUS dan MINUS. Plus dalam arti tambah, lebih atau kelebihan. Minus dalam arti kurang atau kekurangan. Plus kita gunakan untuk melihat kelebihan orang lain, sedangkan Minus kita gunakan untuk melihat kekurangan diri kita sendiri. Apabila kita mau bersikap jujur dan adil, tentulah kita akan mengetahui dan mengerti bahwa teman kita, saudara kita, pacar kita, suami kita, isteri kita dan lainnya, disamping ada kekurangannya juga pasti memiliki banyak kelebihan (plus). Begitu juga ketika kita menilai diri kita sendiri, disamping ada sedikit kelebihan, juga pasti banyak kekurangannya (minus), baik dalam masalah ilmu, amal perbutan, perilaku, kedudukan, harta kekayaan maupun lainnya. Dengan cara demikian, Insya Allah,  hawa nafsu kita, ego kita, kekerasan hati kita,  kesombongan kita, dengan mudah  akan dapat kita tundukkan dan kita kendalikan, sehingga kita pun tidak akan terlalu sulit untuk menghomati dan menghargai orang lain. Apabila kita sudah terbiasa menghormati dan menghargai orang lain dalam arti yang sebenarnya, yaitu dengan setulus hati, semata-mata karena mengharap ridlo Allah SWT., maka dengan sendirinya diri kita akan terhindar dari sifat-sifat yang tercela, misalnya: hasud, takabbur, buruk sangka, pengumpat, dan sebagainya. Dan dengan sendirinya pula sifat-sifat terpuji akan menghiasi diri kita. Misalnya, sabar, jujur, lapang dada, andap asor, selalu berbaik sangka  terhadap orang lain, dan lain sebagainya. Sehingga ketika kita melihat teman kita melakukan suatu  perbuatan yang tercela, mencuri misalnya, maka kita  pun tidak akan tergesa-gesa menghukumi mereka, melainkan hanya sekedar mencari  tahu atau menanyakan pada diri kita sendiri tentang sebab-musababnya kemudian melakukan tindakan nyata demi kebaikan mereka. Misalnya: "Mengapa dia melakukan hal itu?", atau "Apa sebabnya dia mencuri?" dan sebagainya.

Pada saat-saat seperti inilah, yaitu ketika teman kita melakukan perbuatan yang tercela, kelebihan  dan kemampuan kita akan  terukur dan teruji. Apakah diri kita betul-betul memiliki kelebihan atau mungkinkah justeru sebaliknya? Kalau memang diri kita memiliki kelebihan tentulah akan melakukan sesuatu yang berguna untuk mereka, memberikan solusi terbaik bagi mereka, sehingga mereka  terhindar atau berhenti dari kebiasaan-kebiasaan buruknya. Sebaliknya, jika kita tidak mampu melakukan  sesuatu pun untuk mereka,  maka  berarti diri kita pun sebenarnya sama saja dengan mereka, yaitu sama-sama  tidak memiliki kemampuan untuk melakukan perbaikan. Oleh karena itu alangkah baiknya jika kita akui dengan setulus hati bahwa sesungguhnya diri kita ini tidak memiliki kelebihan atau kemampuan apa-apa, kecuali sedikit sekali. Dengan pengakuan semacam inilah kita akan bersikap hati-hati dan tidak mudah menyalahkan terhadap segala sesuatu yang dilakukan oleh orang lain yang kita anggap kurang baik.

(Bersambung ke : ANALOGI CINTA 3)